kubikel

Cancel Culture di Dunia Kerja, Bagaimana Jika Kamu yang Jadi Korban Boikot Massal?

Senin, 23 Oktober 2023 | 21:04 WIB
Ilustrasi: Cancel culture kini merambah ke dunia kerja. Bagaimana harus menyikapi budaya pengenyahan ini? (Freepik/Way Home Studio)

PejuangKantoran.com - Masyarakat Indonesia saat ini semakin banyak yang menerapkan cancel culture pada figur publik atau perusahaan yang dianggap telah bertindak tidak sesuai dengan standar mereka.

Dalam istilah awam, cancel culture bisa dimaknai sebagai budaya pengenyahan, atau boikot massal. 

Salah satu tokoh yang baru saja terkena cancel culture adalah Choi Siwon, anggota boyband Super Junior. Pasalnya, penyanyi Korea Selatan ini terang-terangan mendukung Israel. 

Baca Juga: Choi Siwon Kena Cancel Culture, Mengapa Boikot Massal Tak Bisa Sembarangan Dilakukan?

Biasanya, cancel culture lebih sering terjadi di dunia hiburan, seni, atau politik. Namun, budaya pengenyahan ini sekarang telah merambah ke dunia kerja.

Cancel culture di tempat kerja

Cancel culture di tempat kerja bukanlah hal yang normal. Seharusnya ada mekanisme untuk menyelesaikan konflik di tempat kerja. 

 

Cancel culture bisa membuat karyawan merasa tidak diterima akibat lingkungan kerja yang toxic. Pada gilirannya, kerjasama dengan karyawan lain menjadi mustahil dilakukan sehingga dia tidak mempunyai alternatif lain selain meninggalkan perusahaannya.

Dalam skenario tertentu, mengenyahkan seseorang mungkin tampak seperti satu-satunya pilihan. Misalnya ketika orang tersebut adalah manajer yang menolak berbagai upaya penyelesaian konflik.

Namun, tidak jarang cancel culture di tempat kerja berada dalam konteks permainan kekuasaan atau dendam pribadi.

Membuat tuduhan terhadap rekan kerja karena tidak menyukainya, dan kemudian membuat anggota tim menentangnya adalah cara umum untuk memperkuat status dan posisi seseorang dalam perusahaan.

Hal ini juga dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap orang yang mengalaminya, khususnya ketika tuduhan tersebut dibesar-besarkan atau tidak adil.

Dia akan mendapati dirinya sendirian di lingkungan yang toxic karena kesalahannya. Ini dapat secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental dan kinerja profesionalnya.

Selain itu, tim dan perusahaan kemungkinan hanya mendengarkan dari satu sisi. Akibatnya sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi kecuali penghasutnya meminta maaf secara terbuka.

Halaman:

Tags

Terkini