Kata Chef Vindex Tengker, daging sapi australia atau daging sapi lokal Indonesia baik dari premium cut atau secondary cut bisa diolah menjadi oseng-oseng daging atau tumis daging atau stir fry beef.
Daging sapi secondary cut atau potongan sekunder atau potongan kedua, pun bisa menjadi bahan dasar menu masakan slow cooking.
Di dalam khazanah kuliner, masakan slow cooking adalah cara memasak, termasuk daging yang memerlukan waktu lebih panjang.
Daging sapi masakan slow cooking misalnya ada di semur daging sapi dan juga rendang daging sapi.
Lantas, daging sapi secondary cut bisa juga bisa menjadi bahan baku bakso, daging giling maupun sate, contohnya sate maranggi.
Bisnis kuliner
Lebih lanjut, Chef Vindex Tengker mengaitkan bisnis kuliner dengan kiat atau cara memotong dengan pisau tajam, bukan pisau tumpul, daging sapi australia atau daging sapi lokal Indonesia.
"Cara memotong daging sapi baik premium cut atau secondary cut yang benar dan tepat bisa menghemat biaya bisnis kuliner," ucap Chef Vindex Tengker.
Singkat kata, kepiawaian memotong daging sapi dari premium cut maupun secondary cut adalah pilihan cara cerdik bisnis kuliner minus boros duit tapi sebaliknya, malahan, bisa mendatangkan banyak cuan.
Chef Vindex Tengker kemudian membuat hitung-hitungan sederhana dari bagian tenderloin daging sapi australia.
Dari seekor sapi australia yang beratnya 300 kilogram, ada bagian tenderloin seberat 1,5 kilogram.
"Dari 1,5 kilogram tenderloin, misalnya, seharusnya menjadi 16 porsi makanan," papar Chef Vindex Tengker.
"Karena motongnya enggak benar, tenderloin itu hanya menjadi 12 porsi. Nah, sisanya ke mana? Jadi wasted kan?" kata Chef Vindex Tengker.