Johnson mengatakan, ini waktu yang tepat untuk bersandar pada robot. Sama seperti mengoptimalkan lamaran untuk deskripsi pekerjaan, ia menyarankan pencari kerja untuk memasukkan resume ke ChatGPT dan minta ATS mengoptimalkan resume kamu.
3. Tidak mempersonalisasi lamaran kamu
Pencari kerja mengirimkan resume sebanyak mungkin dan berharap ada yang lolos seleksi. Namun, jika disimak ternyata lamaran kerjamu seperti template yang dipakai berulangkali.
Baca Juga: 7 Skill yang Perlu Dimiliki Tim Procurement untuk Memandu Keputusan Pembelian di Perusahaan
Kamu tidak mengganti poin-poin di dalam lamaran agar sesuai kebutuhan perusahaan yang mereka lamar.
Padahal kalau setiap lowongan pekerjaan mencantumkan deskripsi pekerjaan yang spesifik, kamu pun harus menulis lamaran dan CV sesuai deskripsi pekerjaan tersebut.
4. Tidak cukup banyak mengirimkan lamaran pekerjaan
Mencari pekerjaan saat ini benar-benar merupakan permainan angka. Menurut Johnson, dibutuhkan setidaknya 100-200 lamaran pekerjaan untuk meningkatkan peluang lamaran kamu lolos seleksi.
"Jika Anda hanya melamar 10 pekerjaan dan tidak mendapatkan wawancara, ya, itu karena Anda hanya melamar 10 pekerjaan."
Untuk meningkatkan volume lamaran kerja yang kamu kirimkan, gunakan tools otomatisasi seperti Zapier atau Sonara untuk mengurangi beban kerjamu.
Baca Juga: Lowongan Kerja Procurement Staff di PT Adaro Energy Indonesia Tbk bagi Lulusan Teknik Industri
5. Tidak menghubungi orang-orang di perusahaan secara langsung
Jangan ragu untuk menghubungi teman atau kenalan yang bekerja di perusahaan yang kamu lamar untuk memberitahu bahwa kamu sudah mengirimkan lamaran kerja dan menunjukkan minat kamu.
Kamu juga bisa mengontak seseorang melalui akun LinkedIn-nya untuk menunjukkan keberadaanmu. Bagaimana pun, koneksi adalah kunci untuk menonjol untuk mendapatkan pekerjaan saat ini.
6. Tidak mengoptimalkan profil LinkedIn