kubikel

Mengapa Karyawan Harus Berhenti Mengkhawatirkan AI dan Fokus pada Reskilling untuk Memanfaatkannya

Sabtu, 2 Maret 2024 | 21:48 WIB
Ilustrasi: Karyawan harus mampu merangkul penggunaan AI di tempat kerja dengan melakukan reskilling. (Freepik/rawpixel.com)

PejuangKantoran.com - Artificial Intelligence (AI) membawa manfaat yang luar biasa, dari mendiagnosis penyakit hingga memprediksi gempa bumi. Namun, gangguan yang mungkin terjadi akibat revolusi AI juga bisa menjadi signifikan.

Seiring dengan meningkatnya penggunaan AI di tempat kerja, karyawan punya kewajiban untuk melatih kembali (reskill) keterampilannya untuk menggunakan teknologi ini secara efektif.

Para eksekutif memperkirakan, tenaga kerja yang mungkin perlu dilatih ulang sebagai hasil penggunaan AI di tempat kerja mencapai 40% selama tiga tahun ke depan.

Baca Juga: 10 Bidang Pekerjaan yang Membutuhkan Lulusan Pendidikan Vokasi, yang Lebih Siap Masuk Dunia Kerja

Kemungkinan besar hal ini karena manusia butuh keterampilan yang beragam, dari kemahiran teknis hingga pemahaman dan kemampuan beradaptasi, agar dapat bekerja secara efektif bersama AI.

Tuntutan terhadap karyawan saat ini menghadirkan peluang yang unik dan menarik. Yaitu, bagaimana memberdayakan sekelompok orang baru untuk memasuki pekerjaan yang diinginkan dan berorientasi pada keterampilan digital.

Untuk itu, perusahaan perlu memikirkan kembali pendekatan reskilling atau pelatihan ulang untuk mencapai tujuan ini, sambil memastikan keterampilan karyawan sesuai dengan laju kemajuan teknologi.

AI Generatif: Apa bedanya di era ini?

Konsep AI sudah ada sejak tahun 90-an: pengenalan pola, algoritme berbasis aturan sederhana, permulaan jaringan saraf, transformer, dan akhirnya, generative pre-trained transformers (GPT).

Baca Juga: 8 Keuntungan Menempuh Pendidikan Vokasi buat Persiapan Masuk Dunia Kerja

 

Meskipun GPT dapat menghasilkan teks dan gambar piksel yang lumayan, penggantinya sudah mahir dalam penulisan esai berskala penuh, mampu melakukan pengkodean, penjadwalan, penyusunan strategi, melakukan perhitungan, mengerjakan ujian, dan menjadi teman mengobrol, hampir seperti manusia.

Yang berbeda kali ini bukan tentang kecepatan, melainkan tentang kualitas hasil, demikian menurut Sid Pailla, pendiri dan CEO Sunny Day Fund.

"Saya pikir ada versi AI sebelumnya yang lebih dari cukup dalam menghasilkan produk, tetapi tidak seperti saat ini," tuturnya.

Manajemen perubahan organisasi

Halaman:

Tags

Terkini