kubikel

Stop Memberikan Jawaban Humble Bragging Saat Wawancara Kerja karena Sudah Tidak Efektif Lagi!

Senin, 29 April 2024 | 13:15 WIB
Ilustrasi: Strategi memberikan jawaban humble bragging saat wawancara kerja ternyata sudah tidak efektif. (Unsplash/Mina Rad)

PejuangKantoran.com - Salah satu pertanyaan paling ditakuti saat wawancara kerja adalah, “Apa kelemahanmu yang terbesar?”. Bagaimana kita harus menyebutkan kelemahan-kelemahan kita, kalau nantinya hanya membuat kita tidak diterima bekerja di perusahaan tersebut, kan?

Dari situlah muncul saran untuk melakukan humble bragging saat wawancara kerja, yaitu menyebutkan suatu kelemahan yang nantinya bisa di-twist menjadi suatu kelebihan.

Humble bragging yang dimaksud di sini beda ya, dengan yang disebut warganet dilakukan Sandra Dewi belakangan ini. Kalau Sandra Dewi, humble bragging-nya dengan cara merendah tapi sebenarnya sedang pamer.

Baca Juga: Lowongan Motion Graphic Designer di Dentsu Aegis Network buat yang Pengalaman di Studio Kreatif

Sedangkan humble bragging saat wawancara kerja, kamu mungkin akan mengatakan, "Kelemahan saya, saya bekerja terlalu keras, dan saya cenderung perfeksionis.”

Namun, menurut Brad Karsh, penulis buku Confessions of a Recruiting Director, menyampaikan kelemahan seperti itu sudah pernah dilakukan oleh sekitar 75% pelamar kerja.

“Itu jawaban omong kosong terbesar dalam sejarah interview. Saya tahu apa yang dipikirkan pelamar: ‘Saya akan menyebutkan suatu kekuatan dan menyamarkannya sebagai kelemahan, dan direktur rekrutmen yang mencari pekerjaan dengan mewawancarai orang ini, tidak akan tahu trik saya!’.

Guess what? Kamu bukan orang pertama yang melakukan trik itu,” ujar Brad Krash.

Menurutnya, humble bragging justru merupakan respons terburuk atas pertanyaan “Apa kelemahan kamu” saat wawancara kerja, karena:

Baca Juga: Video Musik Milik RM BTS Wild Flower (With Youjeen) Tembus 100 Juta Views Di Youtube

Jawaban itu klise. Rekruter sudah mendengar jawaban itu ribuan kali.

Tidak meyakinkan. Kalau ada orang yang mengklaim dirinya bekerja terlalu keras atau terlalu peduli, bagaimana kamu berharap rekruter itu mau percaya apa yang kamu katakan?

• Kamu terkesan tidak memahami kekuranganmu yang perlu diperbaiki. Contohnya, saat mengatakan bahwa kamu perfeksionis, seolah-olah kamu menetapkan standar yang lebih tinggi daripada orang lain.

Strategi yang tidak efektif

Perkara humble bragging saat wawancara kerja juga pernah menjadi bahan penelitian Francesca Gino Professor of Business Administration dari Harvard Business School.

Halaman:

Tags

Terkini