Vyas bilang, inilah tipe kepemimpinan yang dapat memberdayakan klaryawan untuk berinovasi dan berkembang dalam karir mereka.
“Saya memimpin tim yang sangat besar dan global. Satu hal penting yang saya katakan kepada tim adalah, 'Tidak ada kesalahan yang bisa kamu lakukan yang tidak bisa saya perbaiki’,” ujarnya.
Menurut Vyas, itu artinya sebagai seorang atasan ia mendorong karyawannya untuk membuat kesalahan dan belajar dari pengalaman.
Begitu juga sebaliknya, jika ada atasan yang mengatakan bahwa karyawannya harus selalu mengikuti arahannya atau melakukan apa yang dia katakan, itu bisa jadi tanda bahaya.
Transparansi antara atasan dan bawahan
Lalu, jika pemimpin yang menerapkan micromanagement, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan memiliki transparansi dan akuntabilitas yang rendah di seluruh organisasi.
Ini artinya tim tidak didorong untuk mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak berhasil.
Apalagi, di beberapa perusahaan besar sudah menjadi hal yang umum kalau semua orang suka bersembunyi di balik satu sama lain, sehingga tidak ada satu orang pun yang bertanggung jawab atas suatu kesalahan.
“Itu tentu saja masalah karena berarti tak ada yang mau bertanggung jawab,” ujarnya.
Baca Juga: Begini Cara Mengecek Jadwal Pencairan KJP Bulan Oktober 2024
Kepemimpinan justru harus menginspirasi transparansi dan akuntabilitas akan mengakui. Jadi saat ada yang mengacaukannya, pemimpin harus bisa mengajak semua orang untuk memperbaikinya.
Karena itu saat wawancara kerja, jangan lupa untuk menanyakan dan memastikan kamu akan memiliki atasan yang baik.
Yaitu, atasan yang memiliki empati, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan mau memberdayakan karyawan untuk berkembang. (Elga Windasari)