Program-program tersebut mendorong mobilitas talenta internal karyawan dengan menawarkan kesempatan belajar dan pengembangan yang disesuaikan berdasarkan minat dan tujuan masing-masing.
Menurut perusahaan yang telah menerapkannya, program-program ini disebut telah menurunkan turnover karyawan, bahkan meningkatkan keterlibatan dan mendorong inovasi mereka.
Baca Juga: Agar Pengaduan Pelanggan Ditangani dengan Tuntas, BRI Gelar Sosialisasi dengan Ombudsman
Ini karena program-program tersebut memberikan jalur yang jelas bagi karyawan untuk mencapai tujuan profesionalnya.
Tak ada pelatihan dan masalah komunikasi
Bagian lain dari masalah breadcrumbing adalah fakta para manajer sering kali tidak memiliki pelatihan kontekstual seputar jalur karir di perusahaan tempatnya bekerja, untuk membantu memberikan informasi kepada orang-orang yang dibawahinya.
“Banyak dari para manajer tersebut mungkin direkrut dari luar sehingga mereka tidak benar-benar menempuh jalur karir di dalam perusahaan,” kata Brian Smith, seorang psikolog organisasi.
Lalu, masalah komunikasi umum juga menjadi tantangan lain yang seharusnya dapat diatasi dengan pelatihan yang lebih baik.
“Banyak manajer yang melewati batas dengan membuat peluang-peluang terasa seperti kenyataan. Padahal, peluang hanyalah sebuah peluang, bukan hal yang pasti akan terjadi,” jelas Brian.
Baca Juga: Silent Firing, Tren Baru yang Merugikan Karyawan. Betulkah Amazon sedang Mempraktikkannya?
Namun, breadcrumbing mungkin bukan sepenuhnya kesalahan manajer atau HRD karena mereka pada kenyataannya terikat oleh anggaran dan faktor-faktor lain sehingga tidak dapat memenuhi janjinya.
Bagaimana dengan manajer atau HRD yang dengan sengaja berjanji palsu pada stafnya?
Brian menegaskan, “Itu sama saja dengan memberikan harapan palsu dan menurut saya itu tidak boleh dibiarkan. Manajer yang melakukan itu mungkin harus ditegur.” (Elga Windasari)