Kamu kemudian berkata pada diri sendiri, “Tidur saja dulu. Besok pagi-pagi banget aku baca lagi email-nya sebelum dikirim.”
“Hal-hal seperti itu sudah melewati ambang batas yang sehat,” tegas Nasir.
Mengganggu kesehatan mental?
Perfeksionisme pada akhirnya bukan sekadar keinginan untuk menjadi yang terbaik, tetapi menetapkan standar yang tinggi bagi diri sendiri yang tidak akan pernah dapat kita capai.
Baca Juga: Aroma Hotel dengan Wewangian yang Khas Berkaitan dengan Scent Marketing. Apa Tujuannya?
Penolakan untuk menerima standar apa pun yang kurang dari kesempurnaan juga dapat menyebabkan tantangan kesehatan mental.
Perfeksionisme membuat kita tidak berani mencoba hal-hal baru, yang dapat menyebabkan penundaan yang dapat menyebabkan kecemasan serta pembicaraan negatif yang parah dengan diri sendiri.
Bagaimana sikap perfeksionis juga mempengaruhi pekerjaan dari sisi negatifnya, pernah diungkap oleh Vitale Buford Hardin dan perusahaannya, The Hardin Group.
Dalam penelitiannya bersama Social Research Lab di University of Northern Colorado, yang mempelajari dampak perfeksionisme di tempat kerja, mengungkap banyak informasi yang mendalam, antara lain:
Baca Juga: Apa Yang Harus Kamu Lakukan (Dos) dan Hindari (Don'ts) Saat Magang Agar Bermanfaat Secara Optimal?
86% responden percaya ekspektasi perfeksionis memengaruhi pekerjaan mereka
72% responden percaya perfeksionisme berbahaya bagi hubungan yang terjalin
68% responden percaya perfeksionisme menyebabkan kelelahan
66% responden percaya perfeksionisme menyebabkan rasa takut gagal dan menghindari konflik
66% tempat kerja berjuang melawan perfeksionisme
1/3 karyawan mempertimbangkan untuk meninggalkan tempat kerja karena ekspektasi untuk menjadi perfeksionis.
Apakah kamu termasuk karyawan perfeksionis, yang menetapkan standar yang tinggi bagi diri sendiri? (Elga Windasari)