PejuangKantoran.com - Banyak perusahaan kini semakin menyadari bahwa banyak pekerja mereka mengalami burnout. Ini sesuai dengan laporan Mercer tahun lalu menunjukkan bahwa 82% pekerja merasa berisiko mengalami hal tersebut.
Penelitian lain yang dilakukan oleh National Alliance on Mental Illness dan Ipsos juga menunjukkan bahwa lebih dari setengah pekerja yang disurvei mengaku pernah merasakan burnout akibat pekerjaan mereka pada 2023.
Namun, meskipun ada kesadaran ini, banyak pemberi kerja yang tampaknya meremehkan seberapa luas masalah ini di kalangan pekerja.
Laporan terbaru dari Care.com menunjukkan bahwa meskipun 84% perusahaan yang disurvei menyadari bahwa burnout dapat mempengaruhi retensi pekerja, mereka belum sepenuhnya memahami seberapa besar dampak masalah ini.
Baca Juga: Cara Install Safe Exam Browser, Penting saat Persiapan Compatibility Device Check selama RBB 2025
Kerja dan merawat anak jadi faktor terbesar
Diperkirakan ada sekitar 45% mereka yang berisiko mengalami burnout. Sementara 69% pekerja melaporkan bahwa mereka memiliki risiko burnout dengan tingkat sedang hingga tinggi.
Salah satu faktor penting dalam terjadinya burnout yang dikeluhkan adalah tanggung jawab pengasuhan anak.
Banyak pekerja yang mengeluarkan biaya untuk perawatan keluarga mengungkapkan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak membuat mereka lebih rentan terhadap burnout.
Selain itu, stres di tempat kerja semakin meningkat karena mereka harus mengatur ekspektasi pekerjaan sambil merawat anak.
Bagi banyak orang tua yang bekerja, terutama yang berusia 40-an, tanggung jawab pengasuhan juga mencakup merawat orang tua mereka.
Baca Juga: RS Gading Pluit Hadirkan Alat Deteksi Kanker Generasi Terbaru, Lebih Akurat dan Presisi
Faktor yang membantu mengatasi burnout
Salah satu faktor yang terbukti efektif dalam mengurangi burnout, berdasarkan temuan Care.com, adalah tunjangan di tempat kerja yang mendukung pengasuh anak.