Pertanyaan ini sesuai dengan kecenderungan psikologis orang yang ingin menyelaraskan kata-kata dengan tindakannya. Jika atasan setuju untuk bicara, dia akan lebih terbuka.
3. Temukan kesamaan dengan atasan
Teruslah berusaha untuk menyesuaikan diri. Perlihatkan bahwa kamu karyawan yang bekerja untuk mencapai tujuan yang sama, bukan lawan.
Baca Juga: Dengan 1,2 Juta Agen hingga Akhir Maret 2025, AgenBRILink Bukukan Volume Transaksi Rp423 Triliun
Kamu bisa bilang, “Saya tahu kita berdua mau proyek ini berhasil. Karena itu saya mau berbagi sesuatu yang menurut saya bisa menghalangi keberhasilan proyek ini.”
4. Gunakan kata-kata yang mencerminkan gaya dan prioritas atasan
Sesuaikan kata-kata dengan hal yang paling penting bagi atasan.Jika dia mementingkan deadline, berikan kata-kata yang berkaitan dengan hal tersebut.
Jika dia peduli dengan reputasinya, tekankan bahwa keputusannya bisa memengaruhi persepsi tim.
Jangan menutup-nutupi atau membohongi, bicaralah dengan bahasa yang lebih mudah diterima oleh atasan.
5. Kritik situasi, bukan orangnya
Baca Juga: Meski Sama-Sama Bisa Sukses, Ini Perbedaan Orang Introvert dan Ekstrovert di Dunia Kerja
Kurangi sikap defensif dengan menggunakan bahasa yang netral dan bersifat observasi. Jangan buat pernyataan yang dimulai dengan “kamu” atau “saya”.
Daripada bilang, “Bapak/Ibu tidak memberi tahu kami”, lebih baik mengatakan, “Ketika perubahan disampaikan dengan pemberitahuan yang singkat, kami jadi lebih sulit untuk menyesuaikan diri.”
Lebih baik lagi, tambahkan saran atau solusi, seperti, “Dengan keputusan ini, kami jadi mengatur jadwal check-in berulang dengan klien untuk membantu tetap on schedule. Apa ini tidak apa-apa?”
6. Cari tahu alasan atasan melakukannya