Titik baliknya terjadi ketika Walters menjadi direktur project management and engineering. Saat itu dia baru sadar, pendekatannya harus berubah supaya timnya bisa berkembang bersama. Jadi, bukan dia sendiri yang menonjol.
Setelah mengubah pola pikirnya, ia mengatakan timnya mampu mencapai hasil yang lebih baik dari yang ditargetkan sejak awal.
Walters bilang, "Alih-alih berpikir bahwa saya dapat menyelesaikan masalah besar, saya menyadari bahwa sebagai kelompok kolektif, tim saya bisa memulainya dengan mendayung ke arah yang sama."
Dampaknya di masa depan
Daripada ingin menjadi karyawan terbaik, Walters menyarankan untuk berfokus pada peningkatan terus-menerus setiap hari di tempat kerja, tidak peduli seberapa kecil peningkatannya.
Meski kecil, tetapi efek majemuk dari cara tersebut akan menghasilkan peningkatan yang lebih besar dari waktu ke waktu.
"Baik itu perkembangan kecil atau besar, kamu akan bisa merasakannya 10 tahun kemudian, dan akan berterima kasih pada diri kamu di masa lalu karena tetap fokus untuk maju," ujarnya.
Pakar kepemimpinan Simon Sinek juga menyarankan pendekatan serupa. Ia mendorong karyawan untuk tidak terlalu peduli dengan prestasi di tempat kerja atau penghargaan tertentu.
Baca Juga: Asal Usul Konklaf: Ketika Kardinal Dikunci di Ruangan Demi Memilih Paus
"Tidak ada yang namanya menang, meski tidak masalah juga dengan memiliki target. Kamu bisa mencapainya dan terkadang melewatkannya. Yang lebih penting adalah, apa momen yang ingin dicapai?" ujarnya.
Sinek menyarankan untuk berpikir tanpa batas, di mana kita bisa fokus pada peningkatan yang holistik dan terus-menerus. Prestasi di tempat kerja, seperti penghargaan karyawan terbaik bulan ini, mungkin akan datang sebagai hasilnya, katanya.