Ini contoh asumsi yang bisa menyebabkan miskomunikasi jika tidak dikonfirmasi.
- Dalam Perencanaan Proyek:
Contoh: "Kami berasumsi bahwa sistem akan stabil selama pengujian."
Perlu dibuat rencana cadangan jika asumsi ini tidak terbukti benar.
- Dalam Evaluasi Kinerja:
Contoh: "Dia tampak kurang aktif di rapat, jadi saya asumsikan dia kurang berkontribusi."
Ini bisa tidak adil jika tidak didukung oleh data atau observasi menyeluruh.
Baca Juga: Penerapan 5W 1H Tak Hanya Dalam Jurnalistik, Namun Juga Bisa Dalam Dunia Bisnis.
Kapan Digunakan dan Kapan Dihindari
Oleh karena itu, pada dasarnya asumsi bisa digunaka pada kondisi tertentu dan tidak bisa digunakan saat kondisi lainnya. Berikut ini kapan waktu tepat menggunakan asumsi dan sebaiknya menghindarinya.
Kapan Asumsi Bisa Digunakan
- Untuk memulai proses kerja ketika data belum lengkap
Misalnya: “Kami asumsikan pelanggan akan merespon positif desain ini.”
Tujuan: Menggerakkan proyek lebih cepat sambil mengumpulkan data.
- Dalam perencanaan dan proyeksi
Misalnya: “Kami asumsikan anggaran tahun depan naik 10%.”
Asumsi ini bisa digunakan sebagai dasar membuat strategi.
- Untuk menyusun strategi alternatif (plan A, B, C)
Asumsi memungkinkan kita membayangkan berbagai kemungkinan skenario.
- Dalam diskusi dan brainstorming
Supaya ide bisa berkembang dengan cepat, asumsi digunakan untuk membangun model atau solusi awal.