Bahkan di tempat kerja yang terlihat sudah lebih seimbang, pemimpin sering kali berpikir bahwa masalah diskriminasi sudah tidak ada lagi. Akibatnya, proses menuju kesetaraan dapat berhenti, bahkan mundur.
Padahal, kesetaraan tidak akan terjadi dengan sendirinya. Perubahan hanya akan terjadi jika ada usaha yang konsisten dan kesadaran yang terus dijaga.
Baca Juga: 16 Film Indonesia yang Tayang Bulan Juni, dari The Dark House hingga Senyum Manies Love Story
Pentingnya pelaporan data
Langkah konkret untuk mengatasi hal ini adalah pelaporan data yang akurat. Di Inggris, misalnya, pemerintah mewajibkan perusahaan besar untuk mengungkapkan kesenjangan gaji antara laki-laki dan perempuan.
Hasilnya, ketimpangan masih terjadi di mana karyawan perempuan masih sangat sedikit yang menempati posisi dengan gaji tinggi.
Ini membuat perusahaan yang mencoba membela diri, tak bisa mengelak dari laporan yang transparan tersebut. Ini membuat perusahaan semakin sulit menyangkal.
Banyak perusahaan yang belum menyadari bahwa mendorong keberagaman terbukti lebih unggul.
Studi McKinsey menunjukkan bahwa perusahaan dengan tim yang beragam secara gender biasanya bekerja 35% lebih efisien.
Baca Juga: Tak Perlu Takut Mengatakan 7 Kalimat Tegas Ini karena Bukan Jadi Tanda Kamu Tidak Sopan
Menghadapi penyangkalan dengan cara yang efektif
Kesadaran terhadap penyangkalan memang penting, tetapi itu saja tidak cukup. Banyak perusahaan mengatakan bahwa penilaian dilakukan secara adil berdasarkan kemampuan, padahal kenyataannya tidak selalu sesuai.
Pelatihan untuk mengenali dan mengurangi penyangkalan bisa jadi awal yang baik, terutama jika dilakukan dengan pendekatan empati.
Seperti yang dijelaskan ekonom Iris Bohnet, pelatihan akan lebih berhasil jika peserta bisa memahami sudut pandang orang yang pernah mengalami diskriminasi, bukan pelakunya.