kubikel

Saat Ada Konflik di Tempat Kerja, Bolehkah Minta Bantuan HR? Ini Waktu Mereka  Harus Turun Tangan!

Rabu, 9 Juli 2025 | 14:15 WIB
Ilustrasi: Ketahui pola pertanyaan HRD yang diberikan saat wawancara kerja, supaya kamu selalu siap dengan jawabannya. (Unsplash/Mina Rad)

PejuangKantoran.com - Saat bekerja, kamu pastinya ingin semua orang akur dan kompak. Rasanya sudah malas menghadapi drama dengan keadaan saat ini.

Sayangnya, kenyataan tak selalu seindah itu. Karena tempat kerja diisi oleh berbagai macam orang dengan berbagai kepribadian, gaya komunikasi, dan cara kerja, pastinya akan yang bersinggungan.

Pertanyaannya: Apakah semua konflik yang terjadi di tempat harus ditangani oleh HR?

Apalagi, survei dari CIPD mengatakan bahwa sekitar 75% perusahaan merasa sudah cukup baik dalam menangani konflik di kantor.

Baca Juga: Bagi Pekerja Perempuan, “Kesejahteraan” di Tempat Kerja Bukan Soal Tunjangan Saja. Apa yang lebih Penting?

Kapan HR perlu turun tangan?

Biasanya, banyak orang berpikir konflik kecil cukup diselesaikan antar karyawan sendiri atau cukup ditangani oleh atasan langsung.

Jika memang bisa diselesaikan secara langsung, ini tentu saja bagus. Namun, ada beberapa kondisi saat kehadiran HR sangat diperlukan, yaitu sebagai berikut.

  1. Saat dua karyawan tak bisa bicara baik-baik

Kadang, konflik sudah terlalu lama atau terlalu emosional sampai kedua belah pihak yang berkonflik enggan berbicara langsung.

Jika atasan pun bingung harus mulai dari mana, maka di sinilah HR bisa hadir sebagai penengah.

  1. Kalau ada kesan pilih kasih dari atasan

Misalnya, ada dua rekan kerja berselisih, tetapi salah satu merasa manajernya memihak si lawan konflik, ini tanda bahwa sudah dibutuhkan sosok yang netral.

Salah satu sosok netral yang dimaksud adalah HR karena dianggap bisa membantu menjaga objektivitas.

Baca Juga: 7 Gangguan di Tempat Kerja yang Bisa Menurunkan Produktivitas, Salah Satunya Sibuk Balas Whatsapp

  1. Jika bermasalah dengan atasan

Ada kalanya karyawan punya unek-unek ke atasan, tetapi ragu atau takut untuk menyampaikan langsung. Misalnya karena merasa tidak dihargai, kurang mendapat arahan, atau merasa kebutuhan mereka diabaikan.

Halaman:

Tags

Terkini