Banyak yang ingin jadi pemimpin yang disukai. Akibatnya, pemimpin takut memberi feedback jujur karena khawatir disebut kasar. Padahal, feedback yang terlalu manis malah membuat bingung.
Anak muda di tempat kerja sebenarnya mau berkembang. Namun, untuk itu mereka harus diberitahu posisi saat ada di mana dan apa yang harus diperbaiki.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Manajemen Waktu dan Keterampilan Organisasi Diri? Ikuti 5 Tips Cerdas Ini!
Tentu saja feedback tetap harus disampaikan dengan rasa hormat dan niat baik. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi membantu untuk tumbuh.
Lalu, yang paling penting adalah feedback harus jadi percakapan dua arah, bukan monolog sepihak.
Hadir itu penting
Banyak yang meremehkan pentingnya kehadiran pemimpin. Padahal, pemimpin yang benar-benar hadir–secara fisik dan emosional–bisa membuat timnya merasa didukung.
Apalagi karyawan dari kalangan Gen Z dan milenial butuh merasa dilihat, didengar, dan dihargai.
Tidak perlu aksi besar-besaran. Cukup luangkan waktu, berikan perhatian, dan tunjukkan bahwa pemimpin benar-benar peduli. Semua itu sudah jauh lebih berarti dari sekadar ucapan-ucapan motivasi.
Kembali ke dasar
Nilai-nilai seperti kepercayaan, keadilan, kerja keras, dan rendah hati tak pernah ketinggalan zaman.
Baca Juga: Di Balik Pembuatan Film 'Sore: Istri dari Masa Depan', Sheila Dara Belajar Bahasa Kroasia
Justru di masa sekarang, saat segalanya serba cepat dan nggak pasti, nilai-nilai inilah yang membuat tim merasa aman dan percaya dengan pemimpinnya.
Jadi, kalau ingin jadi pemimpin yang disukai dan dihormati, tak usah sibuk mengikuti tren manajemen terbaru.
Cukup kembali ke dasar: bicara jelas, dengarkan baik-baik, terus hadir, dan jadi contoh yang baik. Karena pada dasarnya karyawan cuma ingin gaya kepemimpinan yang nyata, bukan yang sempurna.