Pejuangkantoran.com – Perilaku manipulatif sudah jelas lebih banyak merugikan daripada memberikan keuntungan.
Dalam ruang tempat kerja, perilaku ini bisa menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat karena ada rasa ketidak percayaan antarrekan kerja. Dan hal ini bisa menurunkan produktivitas tim, bahlan termasuk moralnya.
Yang tak kalah merugikan, perilaku ini bisa membuat atasan salah dalam menilai kerja. Ini karena seorang manipulator biasanya akan menjadi “anak baik” di depan atasan namun senang menjatuhkan rekan kerja.
Dan hal tersebut tak hanya akan menghambat inovasi da kolaborasi, namun juga bisa membuat turnover yang tinggi.
Tentu saja, ketika ada rekan kerja yang mulai terlihat akan manipulative, maka sudah sewajarnya kamu sebagai bagian dari tim kerja, mengarahkan perilaku tersebut menjadi lebih negosiatif.
Kamu tidak bisa berdalih bahwa itu bukan tanggung jawabmu. Dalam sebuah kerja tim, ketika ada salah satu bagian yang timpang, maka hasil kerja tim menjadi tidak optimal.
Karena itu, mengarahkan perilaku manipulative menjadi negosiatif adalah tanggung jawab bersama.
Butuh kesabaran, strategi komunikasi, dan ketegasan untuk melakukan hal ini. Inti dari usaha ini adalah mencegah pola manipulasi terus berjalan, lalu mendorong mereka ke pola komunikasi terbuka.
Baca Juga: Jangan Biarkan Perilaku Manipulatif di Tempat Kerja Karena Dampaknya Merusak. Berikut Ciri-cirinya!
Berikut langkah-langkah yang bisa kamu lakukan agar perilaku manipulatif rekan kerja bisa menjadi negosiatif:
- Kenali dan Batasi Reaksi Emosional
- Jangan langsung terbawa rasa bersalah, terintimidasi, atau marah.
- Respon dengan tenang, netral, dan tidak meledak.
- Contoh: Jika mereka berkata, “Kalau kamu nggak bantu, berarti kamu nggak peduli sama tim ini.”
Kamu bisa menjawab begini: “Aku peduli, tapi kita perlu bahas pembagian tugasnya secara adil.”
- Tegaskan Fakta, Bukan Emosi
- Arahkan pembicaraan ke data, fakta, dan kebutuhan nyata, bukan permainan perasaan.
- Contoh: “Jadwalku sudah penuh dengan proyek A. Mari kita lihat beban kerja masing-masing, lalu bagi sesuai kemampuan.”
- Gunakan Bahasa "Kita"
- Ubah framing dari “aku lawan kamu” menjadi “kita satu tim.”
- Contoh: “Bagaimana kalau kita cari solusi supaya sama-sama tidak kewalahan?”
- Berikan Batasan yang Jelas
- Jika orang manipulatif selalu berusaha memanfaatkan, penting untuk menunjukkan batas pribadi (boundaries).
- Contoh: “Aku bisa bantu, tapi hanya sebatas menyelesaikan laporan. Presentasi sebaiknya kamu pegang sendiri.”
Baca Juga: Ketahui dan Pahami 5 Faktor Penyebab Seseorang Mempunyai Perilaku Manipulatif !
- Validasi, Lalu Arahkan
- Orang manipulatif sering takut kalah. Maka, validasi dulu perasaannya supaya mereka lebih terbuka.
- Contoh: “Aku paham kamu khawatir tugas ini berat. Itu wajar. Tapi bagaimana kalau kita diskusikan cara membagi supaya lebih ringan?”
- Berikan Pilihan, Bukan Paksaan
- Ajukan alternatif solusi agar mereka merasa tetap punya kendali.
- Contoh: “Kamu lebih nyaman ambil bagian A atau B? Aku bisa ambil yang satunya.”
Inti Strategi
Dalam menjalankan strategi ini, ada sejumlah hal inti yang harus kamu pahami, yaitu:
- Jangan masuk ke “permainan” manipulatif.
- Ubah percakapan jadi transparan, berbasis fakta, dan mencari win-win.
- Apabila arahan kamu ini kamu lakukan secara terus menerus dan konsisten, lama-kelamaan, si manipulator akan belajar bahwa pendekatan negosiatif lebih diterima dan efektif.
Silakan mencoba! ***