Pejuangkantoran.com – Perilaku manipulatif kemungiinan besar terjadi hampir di setiap tempat kerja. Orang melakukan perilaku manipulatif karena itu dianggap sebagai cara paling efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tanpa harus berkonflik secara langsung atau mengambil tanggung jawab secara terbuka.
Perilaku manipulatif di tempat kerja mungkin akan tampak sepele. Namun untuk jangka panjang, perilaku ini bisa sangat merusak, baik untuk individu maupun organisasi secara keseluruhan.
Definisi manipulatif menurut para ilmuwan atau ahli psikologi umumnya mengacu pada perilaku interpersonal yang disengaja dan tersembunyi untuk memengaruhi orang lain demi keuntungan pribadi, dengan cara tidak langsung, sering mengecoh, dan tidak memperhatikan hak atau kepentingan pihak lain.
Perilaku manipulatif biasanya bukan karena "iseng" atau "sekadar licik", tapi akar psikologisnya bisa sangat dalam, bahkan tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Meski begitu, bukan berarti bisa dibenarkan.
Baca Juga: Jangan Biarkan Perilaku Manipulatif di Tempat Kerja Karena Dampaknya Merusak. Berikut Ciri-cirinya!
Alasan di balik perilaku manipulatif bisa kompleks dan berasal dari berbagai faktor psikologis, lingkungan, dan pengalaman masa lalu. Apa saja yang menjadi faktor perilaku manipulatif ini, berikut penjelasannya:
- Kepribadian atau Gangguan Kepribadian
Menurut Paulhus & Williams (2002), beberapa individu memang memiliki ciri kepribadian yang cenderung manipulatif, misalnya:
- Machiavellianism: suka mengontrol, bersikap dingin secara emosional, dan licik demi keuntungan pribadi.
- Narcissistic Personality Disorder: merasa dirinya paling penting, rela mengeksploitasi orang lain.
- Borderline Personality Disorder: terkadang manipulatif dalam upaya mempertahankan hubungan, karena ketakutan ditinggalkan.
- Pengalaman Masa Lalu atau Pola Asuh
- Anak yang tumbuh di lingkungan tidak aman secara emosional (misalnya, sering dikritik atau diabaikan) mungkin belajar bahwa manipulasi adalah satu-satunya cara agar kebutuhan mereka dipenuhi.
- Orang tua yang manipulatif bisa menularkan gaya komunikasi ini pada anak tanpa sadar.
- Budaya atau Lingkungan yang Mendukung Manipulasi
- Dalam lingkungan kerja yang penuh politik, kompetitif berlebihan, atau tidak adil, manipulasi bisa dianggap sebagai “strategi bertahan hidup”.
- Jika perilaku manipulatif sering berhasil dan tidak diberi konsekuensi, orang akan mengulanginya.
Baca Juga: Punya Soft Skill Komunikasi, Apakah Artinya Kamu Hanya Pintar Bicara? Ternyata Bukan Hanya Itu!
- Kurangnya Keterampilan Komunikasi Asertif
- Beberapa orang tidak tahu cara mengungkapkan kebutuhan atau ketidaknyamanan secara langsung, sehingga mereka memilih jalan pintas dengan manipulasi.
- Ini sering muncul pada orang yang pasif-agresif.
- Ingin Menghindari Konsekuensi atau Tanggung Jawab
- Manipulasi bisa digunakan untuk:
- Menghindari kritik;
- Mencuci tangan atas kesalahan;
- Mendapatkan simpati saat salah;
- Mengalihkan perhatian dari kelemahan sendiri.
Dengan mengetahui dan memahami latar belakang perilaku manupulatif ini, kamu jadi lebih tahu apa yang harus dilaukan untuk menghindarinya, mecegahnya, dan mengahadapinya. ***
Artikel Terkait
5 Perilaku Mendasar yang Dibutuhkan Oleh Seorang Pemimpin Agar Efektif Kepemimpinannya
4 Perilaku Atasan yang Bisa Mendorong Karyawan Sering Melakukan 'Revenge Quitting'
10 Keterampilan Komunikasi Utama yang Harus Kamu Kuasai Supaya Komunikasimu Lebih Efektif
15 Jenis Keterampilan Komunikasi yang Bisa Kamu Tulis di Resume atau CV
7 Tanda Perilaku Pasif-Agresif yang Sering Tak Disadari di Tempat Kerja, Bagaimana Cara Menghadapinya?
Fenomena Ghostworking, Saat Rekan Kerja Kelihatan Produktif, Tapi Pekerjaannya Tak Ada yang Beres