PejuangKantoran.com - Bayangkan kamu sudah berhasil mandiri secara finansial. Penghasilan kamu dua digit per bulan, punya rumah sendiri, bisa menentukan tarif kerja, dan mengatur jadwal sesuai keinginan. Hidup pasti terasa bebas, ya.
Namun, ada satu hal yang jarang dibicarakan, yaitu penampilan kamu yang masih sering jadi “tolok ukur” di dunia kerja. Memangnya, apa kaitannya penampilan dan profesionalitas yang dimiliki?
Mungkin kamu pernah mengalami sendiri bagaimana penampilan sangat memengaruhi cara orang memperlakukan kamu. Misalnya, ketika bekerja di bidang layanan atau hospitality, seragam harus ketat, makeup wajib digunakan, dan rambut harus rapi.
Baca Juga: MRT Jakarta Positif Perpanjang Jalur hingga Balaraja dan Serpong, Tangsel Masih Menunggu Kajian
Bahkan, kalau berani protes saat dilecehkan, risikonya bisa kehilangan pekerjaan. Dari situ terlihat jelas bahwa perempuan sering dinilai bukan hanya dari kinerja, tetapi juga dari penampilan fisik.
Kena pajak makeup?
Sayangnya, hal ini masih berlaku sampai sekarang. Penelitian menunjukkan, perempuan yang memakai makeup bisa mendapat gaji lebih tinggi rata-rata 20% dibanding yang tidak.
Sekilas, terdengar seperti keuntungan. Namun, sebenarnya ini bukan bonus, melainkan pajak.
Mengapa disebut pajak? Karena laki-laki bisa bangun tidur, mandi, pakai baju, lalu berangkat kerja tanpa ada yang mempertanyakan profesionalismenya.
Sementara perempuan sering dituntut untuk berdandan, menata rambut, bahkan melakukan berbagai perawatan agar dianggap pantas dan “siap kerja”.
Padahal, perempuan rata-rata mendapat gaji sekitar 20% lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Jadi, walaupun makeup bisa menutup sedikit kesenjangan, biaya yang harus dikeluarkan juga tidak main-main.
Baca Juga: Baim Wong Tantang Luna Maya Tampil di Depan Kamera tanpa Makeup di Film 'Sukma'
Studi bahkan mencatat, perempuan bisa menghabiskan hingga miliaran rupiah sepanjang hidup hanya untuk meningkatkan penampilan. Jadi, kenaikan gaji 20% itu sebenarnya dibayar mahal.
Menilai profesionalisme dari kemampuan, bukan makeup
Kalau kamu bekerja secara remote, mungkin situasinya bisa berbeda. Klien atau rekan kerja hanya menilai hasil kerja, bukan lipstik atau bentuk alis kamu. Kamu bisa lebih hemat waktu dan energi karena tidak perlu berdandan setiap hari.
Namun, tentu saja tidak semua orang punya privilege seperti itu. Bagi kamu yang harus masuk kantor atau sering bertemu klien, pilihannya ada dua.