Pejuangkantoran.com - Penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dan Bard makin hari makin populer.
Banyak perusahaan juga sudah mulai mencari karyawan yang bisa mengoperasikan teknologi in.
Bahkan, ada tren baru, yaitu perusahaan yang mencari “prompt engineer” alias orang yang jago “bicara” dengan AI.
Masalahnya, tidak semua orang benar-benar bisa.
Survei ResumeBuilder.com pada September 2024 terhadap 1.000 pekerja kantoran penuh waktu dan pencari kerja menemukan fakta menarik.
Disebutkan, banyak karyawan yang melebih-lebihkan kemampuan AI mereka, baik saat melamar kerja maupun di kantor.
Baca Juga: AI Class ASEAN: Membuka Pintu Literasi AI untuk Jutaan Pelajar Asia Tenggara
Bohong demi dapat kerja
Sebanyak 45% atau hampir setengah pencari kerja mengaku pernah bohong soal skill AI mereka saat proses rekrutmen.
Caranya macam-macam. Sebanyak 32% mengaku jago di CV—padahal tidak—dan 30% mengaku bisa saat wawancara kerja.
Namun, yang mengejutkan, ada 80% dari mereka justru berhasil dapat kerja!
Bahkan 97% bilang kebohongan mereka cukup membantu atau sangat membantu dalam lolos seleksi.
Meski begitu, ini bukan berarti aman.
Dari mereka yang sudah kerja, 60% mengaku akhirnya kena konsekuensi. Ada yang kebanjiran tugas karena dianggap “jago AI,” ada juga yang ketahuan dan dipecat.