PejuangKantoran.com - Di era sekarang, mencari kerja bukan cuma soal membuat CV bagus dan latihan wawancara kerja.
Ada “teman baru” yang bisa bantu banyak orang dalam proses ini, yaitu kecerdasan buatan (AI). Nah, salah satu yang paling populer adalah ChatGPT.
Banyak pencari kerja sudah mencoba ChatGPT untuk mendukung perjalanan mereka.
Pada Februari lalu, sebuah survei terhadap 1.000 orang di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1 dari 6 pencari kerja—atau sebanyak 18%, pernah memakai ChatGPT selama proses melamar pekerjaan.
Baca Juga: 4 Cara Karyawan Perempuan Bisa Mendapatkan Gaji Lebih Besar, Tanpa Perlu Mengandalkan Penampilan
Generasi muda lebih aktif pakai ChatGPT
Kalau dilihat dari usia, generasi muda ternyata lebih cepat memanfaatkan teknologi ini.
Misalnya, 24% dari mereka yang berusia 18 – 24 tahun, 21% dari usia 25 – 34 tahun, dan 25% dari usia 35 – 44 tahun sudah menggunakan ChatGPT untuk membantu mencari kerja.
Sementara itu, angkanya menurun drastis di kelompok usia lebih tua, yaitu hanya 9% untuk usia 45 – 54 tahun dan 3% untuk usia 54 tahun ke atas.
Faktor gender juga menarik. Pria ternyata jauh lebih banyak yang menggunakan ChatGPT dibanding wanita, dengan perbandingan 25% vs 10%.
Menurut pakar karier Julia Toothacre, hal ini agak mengejutkan karena biasanya perempuan juga terbuka dengan teknologi baru.
Namun, dalam konteks karier, pria ternyata terlihat lebih agresif mencoba cara apa pun demi mendapatkan pekerjaan.
Baca Juga: 4 Nama yang Jadi Kandidat Pengganti Menpora Dito Ariotedjo, Salah Satunya Raffi Ahmad
Untuk apa ChatGPT dipakai?