Meskipun banyak orang merasa AI membantu, ternyata ada perbedaan pandangan antara atasan dan karyawan.
91% pemimpin IT merasa perusahaan sudah menggunakan AI dengan baik, sedangkan hanya 53% karyawan yang merasa hal yang sama.
Artinya? Banyak perusahaan merasa sudah “supportive”, tetapi karyawan di lapangan belum benar-benar merasakannya. Jadi, PR besar perusahaan ke depan adalah bukan hanya pasang teknologi, tetapi memastikan karyawan bisa menikmati manfaatnya secara nyata.
Apalagi ketika ditanya soal prioritas perusahaan, 61% karyawan bilang investasi ke AI lebih penting daripada fasilitas kantor.
Bahkan, yang kerja di kantor pun banyak yang merasa bahwa teknologi yang membantu kerja lebih berguna daripada sofa empuk atau pantry keren.
Baca Juga: Setiap tahun, Ada 10,7 Juta Orang Indonesia yang Butuh Pekerjaan, Tidak Termasuk yang Kena PHK
Bukan cuma anak muda yang menikmati AI
Mungkin banyak yang mengira hanya generasi muda yang senang menggunakan AI.
Meskipun memang 90% Gen Z dan 84% Milenial merasa AI bikin kerja remote lebih produktif, tetapi 71% Gen X dan 74% Baby Boomers juga merasakan manfaat yang sama.
Jadi, teknologi ini ternyata bukan cuma milik pekerja muda, tetapi semua generasi bisa merasa terbantu.
Singkatnya, AI bukan sekadar alat baru, tetapi sedang jadi fondasi cara kerja modern. Fleksibilitas kini dianggap lebih penting daripada lokasi dan AI adalah kunci yang membuat kerja jarak jauh terasa realistis dan nyaman.
Kalau perusahaan ingin mempertahankan karyawan terbaik, sepertinya jawabannya bukan selalu kantor megah, tetapi alat kerja yang benar-benar membantu.
Kalau kamu sendiri, lebih pilih kantor fancy atau kerja remote menggunakan AI?