Pejuangkantoran.com – Di tengah susahnya cari pekerjaan formal di negara ini, Indonesia malah tercatat sebagai hotspot atau sasaran terbesar kasus penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik.
Menurut data internal SEEK (induk Jobstreet / JobsDB), seperti yang dikutip oleh Suara.com, periode Juli 2024 – Juni 2025 ini Indonesia menyumbang 38% dari semua upaya penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik dan 62% dari penipuan lowongan kerja di Asia.
Tentu saja ini angka yang mengkhawatirkan, seperti yang diungkapkan oleh Willem Najoan, Operations Director Indonesia Jobstreet by SEEK.
Menurut Willem, ini tidak lagi hanya berbicara soal kerugian finansial, tetapi juga risiko keamanan serius.
“Job scam telah berevolusi menjadi pintu masuk kejahatan terorganisir seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang yang menyasar warga Indonesia," sebut Willem dalam keterangannya, Kamis (20/12/2025), seperti yang dikutip oleh finance.detik.com.
Dalam temuan SEEK, ada sejumlah iklan lowongan kerja yang paling banyak digunakan sebagai sarana penipuan, yaitu administrasi dan perkantoran (39,36%); sektor manufaktur, transportasi, dan logistik (21,06%); bidang perdagangan dan jasa (7,98%), sektor pariwisata (5,74%).
Tentu saja, kta tetap juga harus waspada dan hati-hati dengan lowonga-lowongan kerja di sektor lain.
Bagaimana mengindikasikan bahwa iklan lowongan tersebut [penipuan atau bukan, begini poin-poin pentingnya (berdasarkan pola-pola yang paling sering muncul):
Baca Juga: Peluang Kerja di Bidang Teknik Otomasi Masih Terbuka Lebar, Begini Cara Jadi Automation Engineer
1. Ciri Fisik Lowongan Palsu
1) Nama perusahaan dan nama HR tidak jelas
- Nama perusahaan tidak muncul di Google.
- HR memakai nama umum seperti “Admin HR”, “Panitia Rekrutmen”, atau “Bagian SDM”.
2) Email rekrutmen mencurigakan
Waspada jika emailnya:
- memakai Gmail/Yahoo (kecuali UMKM), misal: company.hr@gmail.com;
- sengaja typo, contoh: hr@shopee-careerss.com;
- domain tidak sama dengan situs resmi.
Yang benar biasanya:
nama@perusahaan.com