- Karyawan merasa diperlakukan tidak adil.
- Mereka jadi enggan memberi effort lebih.
- Muncul perilaku “kerja seperlunya saja” sebagai bentuk protes.
4. Kurangnya transparansi dan komunikasi
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian. Misal:
- Perubahan struktur mendadak,
- Target tidak jelas,
- Arahan sering berubah,
- Tidak ada penjelasan atas keputusan penting.
5. Budaya menghukum (fear-based culture)
Jika kritik dianggap membangkang, karyawan:
- memilih diam,
- menolak secara pasif,
- menghindari konflik,
- mengikuti instruksi tapi dengan motivasi nol.
6. Tidak ada ruang untuk otonomi
Hal ini terjadi ketika:
- Semua hal harus mengikuti SOP kaku,
- Ide-ide baru selalu ditolak,
- Atasan terlalu micro-managing.
Karyawan merasa tidak dipercaya, sehingga muncul resistensi diam-diam.
Baca Juga: Waspada, Turnover Karyawan Bisa Diprediksi dari Tanda-tanda Awal Seperti Ini
7. Hubungan yang memburuk dengan atasan
Jika hubungan emosional retak:
- Rasa hormat menurun,
- Motivasi turun,
- Karyawan membalas dengan “diam” dalam bentuk penurunan performa.
8. Merasa tidak dihargai
Ketika karyawan tidak mendapat:
- Pengakuan,
- Apresiasi,
- Reward yang pantas,
membuat karyawan memilih untuk tidak memberikan usaha ekstra.
9. Burnout dan kelelahan