Pejuangkatoran.com – Sudah kita ketahui bersama bahwa blurred boundary atau batas yang tak jelas antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi berdampak negatif.
Berbagai macam ujud blurred boundary, misal, masih mengerjakan tugas usai jam kantor yang sering terjadi atau rapat di akhir pekan. Atau, rumah sudah menjadi seperti kantor sehingga tidak ada ruang untuk recovery mental, dan sebagainya.
In i semua bisa memicu burnout, produktivitas menurun, hingga sampai meningkatnya turnover. Jelas bukan hal yang diinginkan oleh siapa pun.
Namun, blurred boundary bisa kita atasi. Kita bisa membangun boundary (batasan) yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi.
Berikut ini strategi praktis dan aplikatif membangun boundary yang sehat untuk itu, bisa diterapkan mulai dari level individu, tim/atasan, hingga organisasi:
1. Tetapkan hard stop waktu kerja
Masalah umum, kerja berhenti secara fisik, tetapi tidak secara mental.
Strategi:
- Tentukan jam selesai kerja yang konsisten (misal 17.30).
- Setelah jam tersebut:
- Tidak membuka email kerja;
- Tidak membaca chat kerja (kecuali darurat yang jelas).
Kunci: boundary harus eksplisit, bukan asumsi.
Baca Juga: 8 Indikasi yang Menunjukkan Kamu Sulit Melepaskan Diri dari Pekerjaan Karena Blurred Boundary
2. Buat end-of-workday ritual (ritual transisi)
Tujuannya memberi sinyal ke otak bahwa kerja telah selesai.
Contoh ritual sederhana:
- Menutup laptop dengan menulis to-do list besok, lalu merapikan meja;
- Jalan kaki 5–10 menit;
- Buat yang WFH, ganti pakaian dengan pakaian rumah.
3. Pisahkan perangkat (jika memungkinkan)
Matikan notifikasi kerja di ponsel utama, misal, nyalakanm mode Focus / Do Not Disturb. Ini mengurangi intrusi pasif yang memicu insufficient detachment.