4. Latih permission to disconnect
Secara sadar katakan pada diri sendiri: “Saya tetap bertanggung jawab meskipun tidak selalu tersedia.”
Ini penting terutama bagi:
- ASN;
- Manajer;
- Pekerja perfeksionis.
Boundary sehat dimulai dari izin psikologis, bukan teknologi.
5. Ganti multitasking dengan time boxing
Alih-alih “kerja sambil hidup”, supaya lebih efektif, lakukan hal ini:
- Tentukan blok waktu kerja fokus;
- Di luar itu, tidak kerja sama sekali.
Strategi Praktis di Level Relasi Kerja (tim dan atasan)
6. Sepakati aturan komunikasi eksplisit
Contoh kesepakatan sehat:
- Jam pesan kerja: 08.00–17.00;
- Pesan di luar jam kerja tidak wajib dibalas segera;
- Kata “urgent” punya definisi jelas.
Boundary yang sehat harus dinegosiasikan, bukan ditebak.
7. Pisahkan “informasi” vs “instruksi”
Banyak blurred boundary terjadi karena informasi non-urgent disampaikan seperti perintah
Solusi praktisnya, gunakan penanda, misal: “FYI”; “Besok ditindaklanjuti”; atau “Tidak perlu dibalas hari ini”.
8. Teladan dari pimpinan
Artikel Terkait
1 dari 4 Karyawan Milenial Pilih Resign Jika Ada Permintaan dari Atasan Di Luar Jam Kerja
Australia Terapkan Aturan Baru: Hak untuk Mengabaikan Bos Setelah Jam Kerja
82% Pekerja Mengaku Mengalami Burnout, Ternyata Penyebabnya Karena Tekanan Bekerja dan Merawat Keluarga
Baik WFO, WFA, atau Hybrid, Ini 3 Strategi Pemimpin untuk Ciptakan Budaya Kerja Fleksibel pada Karyawan
Beri Batasan tentang Jam Kerja Kamu dengan Mencantumkan Email Signature, Seperti Ini Caranya!
Di Balik Kebebasan WFH Ternyata Ada Tantangan Besar. Ini yang Bikin Pekerja WFH Merasa Tertekan!