kubikel

Bukan Karena Mens Rea, Ini Alasan Mengapa Orang Memberikan Feedback yang Merusak Mental

Selasa, 3 Maret 2026 | 18:31 WIB
Ilustrasi: Tidak semua feedback yang merusak mental dipicu oleh niat jahat si pemberi kritik. (Freepik/Kate Mangostar)

PejuangKantoran.com - Riset terbaru yang dilaporkan oleh Harvard Business Review menunjukkan fakta yang memprihatinkan. Kritik yang sifatnya merendahkan atau mempermalukan tidak akan meningkatkan kinerja karyawan, melainkan malah bikin pekerjaan makin berantakan.

Di tempat kerja, umpan balik yang toxic memang sering terasa menyakitkan buat karyawan. Bukan karena mens rea alias niat jahat, tapi lebih karena cara pemberi umpan balik memahami situasi.

Bin Zhao, profesor Manajemen dan Studi Organisasi di Beedie School of Business, Simon Fraser University (Kanada), mengungkapkan alasan mengapa orang memberikan kritik dengan cara yang merusak mental ketika isi feedback negatif:

Baca Juga: 5 Bentuk Feedback yang Paling Merusak Mental Karyawan, Kredibilitas Si Bos Bisa Dipertanyakan!

Tekanan waktu. Stres bisa membuat manajer meledak-ledak. Mereka kerap berbicara dengan kasar tanpa sengaja. Seorang karyawan bilang, "Dia kewalahan, dan saya jadi tempat paling mudah buat menumpahkan frustrasinya." Situasi seperti ini sering terjadi saat deadline menumpuk.

Kurangnya pelatihan. Banyak pemimpin merasa gugup saat harus memberi umpan balik yang negatif. Mereka tak punya keterampilan untuk melakukannya secara jujur, tapi membangun. Akhirnya, mereka meniru apa yang pernah mereka alami atau lihat sendiri. Alhasil, kritik jadi kaku dan menyakitkan.

Luapan emosi mereka sendiri. Sering kali, kritik jadi terasa kasar banget karena orang yang memberikannya lagi merasa marah, malu, kaget, atau cemas gara-gara ada tugas yang gagal.

Dalam kondisi ini, kritik sebenarnya cuma jadi cara bagi si pemberi untuk meluapkan atau mengatur emosinya sendiri yang biasanya terjadi tanpa sadar. Jadi, bukan benar-benar ingin membantu kamu belajar atau berkembang.

Bisa juga, feedback negatif itu muncul hanya karena si pemberi kritik lagi merasa kesal atau punya perasaan negatif lainnya yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama sekali dengan hasil kerja kamu.

Salah kaprah soal motivasi karyawan. Banyak kritik yang sifatnya menjatuhkan itu muncul karena adanya anggapan kalau ngomong jujur (meskipun pahit) otomatis bakal memacu semangat dan bikin mental karyawan jadi kuat.

Baca Juga: Murah dan Cepat Saji, Begini Etiket Bersantap di Resto Sushi Conveyor Belt di Jepang

Padahal faktanya, cara kasar seperti itu justru merusak mental, bikin orang nggak betah kerja, malah menghambat proses belajar mereka.

Diskriminasi terselubung. Menurut para peneliti, ada kelompok karyawan tertentu yang lebih sering jadi sasaran kritik yang merusak. Polanya begini: karyawan perempuan, bertubuh kecil, terlihat muda, pemula, atau beda ras/etnis lebih sering kena kritik merusak.

Seorang pria yang bekerja di profesi yang didominasi wanita pun mengalami hal serupa. Ini menunjukkan bias bekerja secara halus, menyamarkan perlakuan diskriminatif sebagai umpan balik performa.

Dengan memahami alasan-alasan mengapa orang memberikan feedback negatif, kita bisa terbantu menghindari jebakan tersebut. Dengan pelatihan dan kesadaran diri, umpan balik bisa jadi alat pembangun, bukan pemusnah.

Tags

Terkini