Ada Coca Cola dengan kampanye Share a Coke. Konsepnya, Coca Cola mengganti logo pada botol dengan nama orang, misal Andi, Melati, dan sebagainya, sehingga konsumen merasa produk itu personal.
Lalu Nike dengan kampanye Dream Cazy dengan menampilkan Colin Kaepernick. Colin Kaepernick adalah mantan pemain American football dan aktivis hak sipil asal Amerika Serikat. Ia dikenal terutama karena aksinya berlutut saat lagu kebangsaan AS pada 2016 untuk memprotes ketidakadilan rasial dan kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam.
Kampanye Nike ini konsepnya mengangkat pesan keberanian mengejar mimpi, bahkan ketika menghadapi kritik sosial.
Google juga melakukan emotional marketing dengan tema Reunion. Ini adalah kisah dua sahabat yang terpisah akibat pembagian India–Pakistan dan dipertemukan kembali melalui Google Search.
Baca Juga: Lowongan Digital Marketing Staff dari Sido Muncul Buat yang Punya Pengalaman 2 Tahun di Bidang Ini
Ukuran Keberhasilan
Secara teoretis, emotional marketing efektif karena:
- Emosi memperkuat memori. Secara umum, orang lebih mudah mengingat merek yang membuat mereka merasakan sesuatu.
- Emosi memengaruhi keputusan pembelian. Tak jarang keputusan konsumen bersifat afektif, lalu baru belakangan merasionalisasikannya.
- Membangun loyalitas jangka panjang. Hubungan emosional umumnya lebih tahan lama dibanding diskon harga.
Indikator bahwa emotional marketing ini berhasil, tak bisa hanya diukur dari penjualan saja, namun engagement rate (like, comment, dan share) juga harus diperhatikan di era digital saat ini.
Selain itu ukur juga repeat order, testimoni organic, word of mouth, dan direct message tanpa iklan.
Ada indikasi sederhana untuk mengetahui sejauh mana emotional marketing ini berhasil pada seseorang, yaitu ketika seseorang sudah mengucapkan “Saya suka merek ini bukan cuma produknya saja.”
So, jika kamu bagian dari tim marketing, sering-seringlah memperhatikan fenomena sosial yang menguras emosi, siapa tahu bisa riding the wave.
Namun ingat, tetap harus hati-hati! Jangan sampai malah terkesan sekadar memanfaatkan momentum emosional, karena malah bisa jadi bumerang bagi merek. ***