Belajar Emotional Marketing dari Punch dan Boneka Orangutan IKEA

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Jumat, 6 Maret 2026 | 11:26 WIB
Belajar emotional marketing dari IKEA dan kisah Punch si makaka Jepang.  (Screenshoot IG @ikeamalaysia dan IG @takalarinfo)
Belajar emotional marketing dari IKEA dan kisah Punch si makaka Jepang. (Screenshoot IG @ikeamalaysia dan IG @takalarinfo)

Pejuangkantoran.com – Beberapa waktu lalu, kisah mengharukan tentang Punch, seekor bayi makaka Jepang (Macaca fuscata) di Ichikawa City Zoo. Punch ditinggalkan induknya sejak bayi (lahir 26 juli 2025).

Sedihnya, tidak ada makaka lain yang mau berinteraksi dengannya setelah itu. Lalu petugas kebun binatang ini memberinya sebuah boneka orangutan seri Djungelskog yang dijual di IKEA.

Sejak itu, Punch tidak pernah lepas dari boneka ini. Punch ke mana-mana selalu menyeret boneka ini, bermain dengannya, bahkan tidur dengannya pula.

Kisah tentang Punch ini kemudian viral di media sosial, mengundang simpati dan empati dari seluruh penjuru dunia.

Boneka orangutan ini yang semula barang biasa menjadi simbol emosional setelah kisah Punch viral. Orang melihat boneka itu sebagai simbol kenyamanan dan kasih sayang dan sering dijuluki sebagai “Ora-Mama”.

Dampaknya, produk boneka orangutan ini laris di banyak tempat, seperti yang dilaporkan di britbrief.co.uk.

IKEA kemudian menyumbangkan boneka tambahan ke kebun Binatang, membuat konten yang merespons cerita Punch yang mengaitkan pesan tentang kenyamanan dan keluarga.

Langkah ini memperkuat persepsi bahwa IKEA peduli dan empatik, bukan sekadar menjual produk. Langkah ini disebut sebagai emotional marketing.

Baca Juga: Mengenal Lead Generation, Apa Perannya dalam Tim Sales dan Marketing dan Bagaimana Cara Kerjanya

Menurut teambench.ai, emotional marketing adalah strategi pemasaran yang bertujuan menjalin hubungan emosional antara merek/produk dengan audiens.

Caranya dengan memanfaatkan perasaan manusia (seperti kebahagiaan, rasa percaya, nostalgia, atau bahkan rasa takut) untuk memengaruhi persepsi, keputusan, dan perilaku konsumen (dan tentu saja meningkatkan perhatian, ingatan, keterlibatan, dan kemungkinan pembelian).

Pendekatan ini menjadikan marketing tak hanya fokus pada fitur atau harga. Pendekatan ini menjadikan sebuah merek bisa membuat konsumen “merasakan” sesuatu yang bermakna.

Brand yang Memanfaatkan Emotional Marketing

Sudah banyak merek/brand yng memanfaatkan emotional marketing ini sebelum IKEA dengan Punch si makaka Jepang ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber, britbrief.co.uk, teambench.ai

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X