PejuangKantoran.com - Di Jepang, pemandangan orang tertidur di meja kerja atau saat rapat adalah hal yang lumrah. Fenomena ini disebut Inemuri, yang secara harfiah berarti "tidur saat hadir."
Alih-alih dianggap malas, perilaku ini sering dipandang sebagai bukti bahwa seseorang sudah bekerja sangat keras hingga kelelahan.
Namun, di balik normalisasi budaya ini, ada data yang cukup mengkhawatirkan. Laporan menunjukkan bahwa sekitar 56% orang dewasa di Jepang tidur kurang dari enam jam setiap malamnya. Angka ini mencerminkan tingginya tekanan kerja yang membuat waktu istirahat di rumah menjadi sangat terbatas, sehingga inemuri menjadi cara otomatis bagi tubuh untuk bertahan.
Baca Juga: Daftar Rest Area Tol Trans Jawa Lengkap dengan SPBU, SPKLU, Tempat Makan, Masjid-Musala
Jika kita melihat dari sisi ekonomi global, kurang tidur bukan sekadar masalah kantuk biasa. Dampaknya nyata terhadap produktivitas.
Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, masalah kurang tidur ini diperkirakan merugikan ekonomi hingga $411 miliar per tahun. Kerugian ini muncul dari hilangnya fokus, menurunnya kualitas kerja, hingga tingkat absensi yang tinggi.
Pada akhirnya, meskipun budaya inemuri di Jepang terlihat unik, data menunjukkan bahwa tubuh manusia tetap memiliki batas. Baik di Jepang maupun di negara lain, mengabaikan waktu istirahat yang cukup ternyata memiliki harga yang sangat mahal, baik bagi kesehatan individu maupun stabilitas ekonomi sebuah negara.