kubikel

Benci Pekerjaan Sendiri Bisa Berdampak Buruk untuk Tubuh, Ini Penjelasannya

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:15 WIB
Ilustrasi: Cara menghadapi stres yang kurang tepat seringkali menyebabkan kamu sulit naik jabatan. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Tidak semua orang menyukai pekerjaannya. Namun ketika rasa tidak nyaman di kantor berubah menjadi stres berkepanjangan, dampaknya ternyata bukan hanya soal suasana hati, tetapi juga kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

Sejumlah ahli kesehatan menyebut pekerjaan yang membuat seseorang terus-menerus tertekan dapat memicu respons stres kronis dalam tubuh. Kondisi ini membuat sistem saraf berada dalam mode “siaga” terlalu lama dan perlahan memengaruhi berbagai organ tubuh.

Salah satu gejala paling umum adalah gangguan tidur. Banyak orang yang membenci pekerjaannya mengalami kesulitan tidur karena pikiran terus dipenuhi urusan kantor, target, atau kecemasan menghadapi hari kerja berikutnya. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat memperburuk stres dan memengaruhi konsentrasi serta produktivitas sehari-hari.

Selain insomnia, stres kerja juga sering memicu sakit kepala dan nyeri otot. Saat tubuh merasa terancam, otot secara otomatis menegang sebagai bagian dari respons “fight or flight”. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, ketegangan kronis dapat menyebabkan migrain, nyeri leher, sakit punggung, hingga rasa pegal berkepanjangan.

Baca Juga: Meski Terbebani Kesuksesan Film Pertama, Bayu Skak Pede dengan Pesan 'Sekawan Limo 2: Gunung Klawih'

Masalah pencernaan juga menjadi salah satu dampak yang cukup sering muncul. Para ahli menjelaskan bahwa otak dan sistem pencernaan memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu, stres berkepanjangan akibat pekerjaan dapat memicu sakit perut, diare, sembelit, kembung, hingga irritable bowel syndrome (IBS).

Tidak hanya itu, hormon stres seperti kortisol juga dapat memengaruhi pola makan dan berat badan. Sebagian orang menjadi kehilangan nafsu makan ketika stres, sementara yang lain justru lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak sebagai bentuk “pelarian emosional”. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolisme.

Efek lain yang sering tidak disadari adalah menurunnya daya tahan tubuh. Stres kronis dapat mengganggu sistem imun sehingga tubuh lebih mudah terserang flu, infeksi, dan berbagai penyakit lainnya. Penelitian juga menunjukkan tekanan kerja berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2.

Baca Juga: Kenapa Banyak Orang Lebih Produktif Saat Kerja di Coffee Shop?

Dari sisi mental, pekerjaan toxic atau penuh tekanan dapat menyebabkan burnout, kelelahan emosional, kecemasan, hingga depresi. Dalam beberapa kasus, seseorang bisa kehilangan motivasi, sulit fokus, dan merasa emosinya terkuras bahkan setelah jam kerja selesai.

Para ahli menyarankan pentingnya mengenali sinyal tubuh sejak dini. Jika pekerjaan mulai berdampak pada kualitas tidur, kesehatan fisik, atau hubungan pribadi, itu bisa menjadi tanda bahwa stres kerja sudah tidak sehat lagi. Mengatur batas kerja, mengambil waktu istirahat, menjaga pola hidup sehat, hingga mempertimbangkan lingkungan kerja baru menjadi beberapa langkah yang disarankan untuk mencegah dampak jangka panjang.

Tags

Terkini