PejuangKantoran.com - Paling sebel kalau kamu membalas email pukul 09.00, tapi rekan setimmu baru respons pukul 16.00. Buat kamu kebiasaan rekan kerja seperti itu jelas akan menghambat pekerjaan. Tugas yang seharusnya bisa selesai tadi pagi, harus tertunda gara-gara si A baru "panas" di sore hari.
Hal seperti ini umumnya disebabkan oleh perbedaan kepribadian dan kebiasaan antara si morning person dan si night owl. Perbedaan jam biologis antara keduanya sering banget bikin koordinasi tim jadi berantakan.
Menyelaraskan kerja sama tim itu memang susah-susah gampang. Banyak banget faktor yang memengaruhi budaya kerja. Apalagi, penelitian menunjukkan bahwa waktu setiap orang itu berbeda kapan mereka paling produktif. Harus ada orang yang bisa menjembatani perbedaan ini biar tim bisa bekerja sama dengan baik.
Baca Juga: Si 'Night Owl' Tak Perlu Merasa Bersalah karena Lebih 'On' Jika Bekerja pada Malam Hari
Perbedaan cara memandang waktu
Para ahli manajemen baru-baru ini membongkar bagaimana jam biologis karyawan memengaruhi persepsi mereka tentang waktu. Si anak pagi merasa waktu produktifnya melimpah pada pagi sampai siang, tapi mulai menurun menjelang sore. Sedangkan si anak malam merasa baru benar-benar "kerja" pas sudah mau maghrib.
Perbedaan cara melihat waktu ini ujung-ujungnya memengaruhi kapan mereka mau meluangkan waktu untuk membantu rekan kerjanya.
"Orang pagi dan orang malam sebenarnya melihat waktu luang yang mereka miliki dengan cara yang berbeda. Perbedaan ini akhirnya memengaruhi kapan mereka memilih untuk membantu rekan kerjanya di kantor," kata Ji Woon “June” Ryu, asisten profesor manajemen di Portland State University.
Misalnya, kalau si morning person diminta bantuannya pada pukul 16.00, mungkin mereka bakal mager karena merasa sebentar lagi sudah mau pulang. Sebaliknya, si night owl mungkin belum konek kalau diajak diskusi pukul 08.00.
Berdasarkan fakta tersebut, para peneliti ingin tahu apakah kita bisa melebarkan waktu produktif kita agar bisa bekerja sama lebih baik dengan tim. Mereka mendapati, itu bisa banget asalkan jam biologis kita konsisten. Misalnya, dengan tidur lebih teratur.
Baca Juga: Punya Banyak Follower di Media Sosial Nggak Jadi Jaminan, Ini Syarat Membangun Komunitas!
Riset mereka menemukan fakta bahwa mengubah diri dari anak malam malam menjadi anak pagi (atau sebaliknya) memang bawaan lahir yang susah diubah. Tapi, keyakinan atau mindset kita tentang seberapa fleksibel kita bisa mengatur hari, ternyata sangat bisa diubah.
Nah, di sinilah bos harus maju sebagai penengah. Daripada memaksa si anak malam datang pagi-pagi (yang bikin mereka lemas), manajer bisa membantu menggeser mindset karyawannya melalui latihan mental singkat atau pendekatan dengan memberi pengertian.
Manajer bisa meyakinkan tim bahwa meskipun mereka anak malam atau pagi, mereka masih punya kontrol penuh kok buat menentukan kapan waktu terbaik untuk bantu teman setim.
Ketika persepsi karyawan tentang waktunya sudah berubah jadi lebih fleksibel, kolaborasi tim bakal berjalan jauh lebih mulus dan produktivitas mereka otomatis bakal naik.