kubikel

Ini Penyebab Bos Paling Nggak Suka Kalau Kamu Mau WFH (Produktivitas bukan Satu-satunya Alasan)

Jumat, 17 Juli 2026 | 21:20 WIB
Ilustrasi: Ada tipe bos yang menentang sistem kerja WFH, karena mengurangi kesempatan mereka untuk pamer otoritas. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Pasca pandemi Covid-19, sistem hybrid (perpaduan WFH dan WFO) masih berjalan di banyak perusahaan. Namun di beberapa industri yang membutuhkan tatap muka dan kontrol keamanan data seperti sektor layanan publik, perbankan, kesehatan, atau pariwisata, umumnya karyawan diwajibkan full WFO atau work from office

Tapi, ada juga kantor-kantor dengan budaya korporat tradisional yang mewajibkan karyawan untuk bekerja di kantor. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi karyawan, kalau semua pekerjaan sebetulnya bisa dilakukan di rumah, kenapa banyak bos yang bersikeras meminta kita kembali ke kantor sepenuhnya?

 

Dari kacamata manajemen tradisional, kehadiran fisik sering kali disamakan dengan kerja keras. Padahal, esensi dari produktivitas kerja itu sendiri jauh lebih dalam dari sekadar absensi di meja kantor.

Baca Juga: Kalau Si Morning Person Satu Tim sama Si Night Owl, Bagaimana Cara Mereka Bekerja Sama?

"Produktivitas itu sebenarnya tergantung pada tanggung jawab pekerjaan, cara karyawan menyelesaikan tugasnya, dan bagaimana prosedur perusahaan dijalankan.

"Kantor memang bagus untuk kolaborasi dan cari solusi cepat, tapi kerja remote justru bisa meningkatkan produktivitas karena karyawan terbebas dari macetnya perjalanan dan distraksi.

"Pada akhirnya, performa kerja itu dinilai dari apa yang berhasil diselesaikan, bukan dari mana kerjaan itu dikerjakan," kata Kumar Rajagopalan, Vice President, Strategic Initiatives & Country Head India di Dexian.

Hasrat untuk selalu "terlihat" dan berkuasa

Namun, alasan mengapa atasan menentang WFH atau work from home tidak melulu menyangkut produktivitas kerja. Ada faktor psikologi kepemimpinan yang jadi penyebab tersembunyi, dan hal ini baru terungkap dari sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Vocational Behavior.

Baca Juga: Asuransi Jiwa Zurich Topas Life Tawarkan Lowongan Kerja untuk Unitlink, Payment and Project

Berdasarkan riset tersebut, atasan yang punya kecenderungan sifat narsis yang kuat ternyata jauh lebih menolak sistem kerja WFH. Alasan utamanya bukan karena performa karyawan menurun saat bekerja di rumah, melainkan karena WFH mengubah dinamika kekuasaan, kontrol, dan eksistensi mereka di kantor.

Sistem kerja jarak jauh itu mengurangi kemungkinan si bos untuk pamer otoritas. Saat semua orang bekerja dari rumah, tidak ada lagi momen di mana bos bisa mondar-mandir mengawasi meja anak buahnya. Tidak ada lagi rapat dadakan yang sengaja digelar hanya untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali.

Bagi tipe pemimpin yang haus validasi, status, dan pengakuan visual, hilangnya interaksi langsung ini membuat mereka merasa tidak nyaman. Mereka merasa kehilangan panggung.

Akhirnya, memaksa karyawan kembali ke kantor jadi jalan pintas untuk mengembalikan rasa berkuasa tersebut, terlepas apakah keputusan itu efektif untuk bisnis atau tidak.

Halaman:

Tags

Terkini