"Banyak manajer yang mengaitkan kehadiran fisik di kantor dengan rasa tanggung jawab. Mereka khawatir ada miskomunikasi, pelayanan konsumen jadi menurun, atau masalah kedisiplinan.
"Tapi, memaksa karyawan tetap masuk dengan aturan ketat di saat situasi lagi sulit justru bisa merusak rasa percaya, menurunkan moral, dan mengikis komitmen mereka ke perusahaan," tambah Rajagopalan.
Riset ini tentunya nggak bermaksud menuduh semua manajer yang pro-WFO itu narsis. Kantor fisik memang punya fungsi nyata untuk membangun budaya kerja tim dan membantu karyawan baru belajar dari seniornya.
Namun, riset ini membuka mata kita bahwa kebijakan tempat kerja sering kali tidak dibuat murni berdasarkan hitungan bisnis yang objektif. Kadang-kadang, aturan WFO atau WFH itu cuma cerminan dari bagaimana ego seorang bos ingin memimpin timnya.
Kalau kamu sendiri bagaimana, apakah kantor masih menerapkan sistem hybrid atau full WFO?
Artikel Terkait
Banyak Gen Z Mulai Enggan Jadi Bos, Ini Alasannya Menurut Survei Deloitte
Erling Haaland Jadi Sensasi Piala Dunia 2026, Tak Hanya Tajam di Lapangan tapi Juga Raup Pendapatan Rp1,3 Triliun
Jerman Bakal Perketat Aturan Cuti Sakit, Tak Bisa Lagi Ajukan Surat Dokter Lewat Telepon
ILO: Lebih dari 840 Ribu Orang Meninggal Tiap Tahun akibat Risiko Psikososial di Tempat Kerja
Portugal Buka Jalur Visa Pencari Kerja bagi Tenaga Terampil, Bisa Cari Kerja Langsung di Negara Tujuan
Asisten Pribadi yang Siaga 24/7, Cekatan, Pintar, dan Tak Pernah Mengeluh: AI-Native Smartphone
Final Piala Dunia FIFA 2026, Argentina vs Spanyol, Berikut Deretan Rekor dan Pencapaian Kedua Tim