kubikel

Burnout Bukan Lagi Masalah Pribadi, Tapi Ancaman Produktivitas Perusahaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 10:15 WIB
Kenali burnout yang kamu alami agar tahu cara menyelesaikannya. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Burnout selama ini sering dipandang sebagai persoalan individu. Ketika seorang karyawan kelelahan, solusi yang muncul biasanya sebatas menyarankan cuti, beristirahat, atau mengatur ulang keseimbangan hidup. Namun, berbagai riset terbaru menunjukkan bahwa dampak burnout jauh melampaui kesehatan pekerja. Kini, kelelahan mental mulai dipandang sebagai salah satu risiko bisnis yang secara langsung memengaruhi produktivitas perusahaan.

Temuan terbaru dari British Standards Institution (BSI) menunjukkan organisasi dapat memperoleh "productivity premium" atau peningkatan produktivitas yang signifikan ketika membangun budaya kerja yang membuat karyawan merasa aman untuk membicarakan kondisi kesehatan fisik maupun mental mereka. Penelitian tersebut menegaskan bahwa kepercayaan di lingkungan kerja menjadi fondasi penting bagi kinerja organisasi.

Temuan tersebut menarik jika dikaitkan dengan kondisi tenaga kerja di Indonesia.

Data Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK menunjukkan Indonesia menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan kerja tertinggi di kawasan Asia Pasifik, yakni mencapai 82 persen. Namun di sisi lain, sebanyak 43 persen pekerja Indonesia mengaku mengalami burnout. Kondisi yang tampak paradoks ini diperkuat oleh Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025 yang menunjukkan tingkat kesejahteraan mental pekerja Indonesia masih berada di bawah rata-rata global.

Baca Juga: Pikiran Lagi Mentok? Jangan Dipaksa, Ide Kreatif Justru Sering Muncul kalau Kita Lagi Santai

Artinya, merasa senang bekerja tidak selalu berarti seseorang memiliki kondisi mental yang sehat.

Menurut BSI, perusahaan yang mampu menciptakan budaya saling percaya justru memiliki peluang mempertahankan produktivitas lebih baik dibanding organisasi yang hanya berfokus pada target bisnis semata. Ketika pekerja merasa aman menyampaikan kondisi kesehatannya, perusahaan dapat melakukan penyesuaian pekerjaan sebelum masalah berkembang menjadi absensi panjang atau bahkan keputusan resign. 

Biaya burnout jauh lebih besar daripada sekadar cuti sakit

Burnout bukan hanya menyebabkan pekerja mengambil cuti.

Riset Centre for Economics and Business Research (CEBR) yang digunakan dalam laporan BSI menemukan tiga dampak utama ketika pekerja tidak memiliki kepercayaan untuk membicarakan kondisi kesehatannya kepada perusahaan.

Pertama adalah meningkatnya absenteeism atau ketidakhadiran kerja. Karyawan yang tidak merasa didukung cenderung mengambil cuti lebih lama ketika akhirnya jatuh sakit.

Kedua adalah presenteeism, yakni kondisi ketika seseorang tetap datang bekerja meskipun secara fisik maupun mental sebenarnya tidak mampu bekerja secara optimal. Fenomena ini sering kali luput dari perhatian karena karyawan tetap hadir di kantor, tetapi produktivitasnya menurun secara signifikan.

Ketiga adalah meningkatnya risiko turnover. Karyawan yang merasa tidak memperoleh dukungan lebih mungkin meninggalkan perusahaan atau mengambil cuti jangka panjang yang tidak direncanakan.

Presenteeism sendiri mulai dianggap sebagai salah satu biaya tersembunyi terbesar bagi perusahaan karena kerugian produktivitas yang ditimbulkan sering kali lebih besar dibanding absensi biasa.

Baca Juga: Kylian Mbappé Pimpin Top Skor Sepanjang Masa Piala Dunia FIFA, Apakah Lionel Messi Bisa Menyalip Kembali Rekor Tersebut?

Halaman:

Tags

Terkini