PejuangKantoran.com - Sudah kerja mati-matian, hampir tiap hari lembur, bahkan terkadang mengambil kerjaan tambahan yang bukan job desc kamu. Tapi pas appraisal keluar, angkanya bikin nyesek.
Cerita ini bukan cuma terjadi sama kita, tetapi juga dua karyawan di dua perusahaan berbeda, satu dari Deloitte, satu dari Accenture. Setelah 10 tahun mengabdi, ternyata karyawan ini cuma dapat kenaikan gaji 5%.
Beliau ini konsultan teknologi senior di Deloitte, yang akhirnya resign setelah 10 tahun kerja di sana. Keputusan ini sudah dia pikirkan matang-matang setelah merasa burnout dengan jadwal kerja yang berat. Yang paling zonk, karier dan gajinya jalan di tempat.
Baca Juga: Bentuk Empati ke Penyandang Kanker, Ciccio Manassero Turunkan Berat Badan 8 Kg di 'Rumah Singgah'
Awalnya dia masuk sebagai fresh graduate dan berniat membangun karier jangka panjang di sana. Model kerja consulting yang penuh proyek besar, kesempatan belajar, dan mentoring dari senior, bikin dia betah bertahun-tahun.
Tapi lama-lama, beban kerjanya makin nggak masuk akal. Dia harus handle kerjaan klien sekaligus ikut proyek internal, rekrutmen, bikin proposal, sampai business development. Padahal itu bukan pekerjaan utamanya.
Setelah kerja keras habis-habisan, dia cuma dapat kenaikan gaji 5% dan nggak berhasil naik jabatan. Dari situ dia sadar ada gap besar antara performa dan penghargaan. Orang yang hasil kerjanya biasa saja dengan yang outstanding, ternyata selisih kenaikan gajinya nggak jauh beda.
Hal inilah yang bikin dia merasa kerja keras itu jadi kayak nggak ada gunanya.
Kalau cerita ini terasa relate, coba ingat-ingat lagi soal seruan "kerja 70 jam seminggu" dari N.R. Narayana Murthy, salah satu pendiri raksasa teknologi asal India, Infosys.
Seruan ini sempat viral dari salah satu tokoh besar industri IT. Ekspektasi jam kerja makin tinggi, tapi apresiasinya kok nggak ikut naik proporsional?
Baca Juga: Membangun Komunitas Itu Nggak Bisa Instan, tapi Banyak Caranya. Salah Satunya, Manfaatkan UGC!
Skema baru Accenture
Cerita dari karyawan Accenture ini nggak kalah ngenes. Salah satu perusahaan consulting terbesar di dunia dengan lebih dari 780 ribu karyawan global ini baru saja mengubah cara mereka memberi kenaikan gaji.
Dulu, kalau perusahaan memberikan kenaikan gaji, seluruh persentasenya masuk ke gaji pokok karyawan. Sekarang, sistemnya beda. Kenaikan gaji yang disetujui bakal dibagi dua:
- 50% masuk ke gaji pokok secara permanen
- 50% sisanya dibayar sekali doang dalam bentuk cash lump-sum di bulan Juni
Contohnya gini, kalau kamu disetujui naik gaji 3%, ternyata cuma 1,5% yang beneran kamu terima di gaji pokok bulanan. Sisanya 1,5% ditransfer sekali bayar pada akhir bulan.
Artikel Terkait
Inilah Kota Paling Layak Huni di Dunia 2026: Copenhagen Pertahankan Posisi Puncak
Burnout Bukan Lagi Masalah Pribadi, Tapi Ancaman Produktivitas Perusahaan
Bahagia di Tempat Kerja, Tapi Burnout? Ini Paradoks yang Dialami Banyak Pekerja Indonesia
Orang Indonesia di Balik Megahnya Upacara Pembukaan dan Penutupan Piala Dunia 2026
Ini dia 5 Kontroversi Argentina di Final Piala Dunia FIFA 2026: Kartu Merah, Kericuhan Massal, Bahkan Lionel Messi Ikut-Ikutan Provokasi!
10 Values Personal yang Dianggap Penting dalam Dunia Kerja yang Wajib Kamu Pahami dan Terapkan!
Nggak Sempet ke Gym? Yuk Kita Lakukan VILPA, Olahraga bagi yang Sibuk, Sehat Tanpa Perlu ke Gym