- Takut kehilangan status atau otoritas
Ini sangat sering terjadi di tempat kerja. Misalnya seorang senior dikoreksi junior. Yang terasa terancam bukan hanya pendapatnya, tetapi posisi, kompetensi, atau kewibawaannya.
- Sulit mengakui kesalahan
Ada orang yang memiliki kebutuhan kuat untuk selalu terlihat benar. Ketika bukti menunjukkan sebaliknya, muncul menyangkal, mencari alasan, menyalahkan orang lain, mengubah topik, atau menyerang balik.
- Rasa tidak aman (insecurity)
Menariknya, defensiveness yang kuat sering kali justru berkaitan dengan ketidakamanan, bukan kepercayaan diri yang tinggi. Orang yang benar-benar yakin dengan kompetensinya biasanya lebih mampu mengatakan: “Ya, bagian itu memang kesalahan saya.”
- Pola komunikasi yang dipelajari
Kalau seseorang tumbuh dalam lingkungan di mana konflik selalu diselesaikan dengan membantah, berteriak, menyalahkan, atau mencari siapa yang salah, pola tersebut bisa terbawa sampai dewasa.
Baca Juga: Mengapa Karyawan Enggan Cerita ke Atasan? Diam soal Burnout Bisa Merugikan Perusahaan
- Merasa tidak dipahami
Defensiveness juga bisa muncul karena seseorang merasa konteksnya tidak didengar.
Contoh: “Kamu selalu terlambat.”
Orang tersebut mungkin langsung membela diri karena merasa tuduhan itu tidak adil, sehingga ia akan merepson: “Saya terlambat cuma sekali! Kamu nggak lihat berapa kali saya datang tepat waktu?”
Di sini masalahnya bukan hanya kritik, tetapi cara kritik disampaikan.
- Merasa kehilangan kontrol
Ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak dapat ia kendalikan, respons defensif dapat menjadi cara untuk mendapatkan kembali rasa kontrol.
Di lingkungan kerja, defensiveness adalah kecenderungan seseorang untuk melindungi diri ketika menerima kritik, koreksi, evaluasi, pertanyaan, atau perbedaan pendapat, sehingga responsnya lebih berorientasi pada membela diri daripada menyelesaikan masalah.
Baca Juga: Lampu Merah Ketika Karyawan Kantor Didominasi Cenderung Takut Salah dan Saling Menyalahkan!
Yang membuatnya menarik: orang yang defensif tidak selalu merasa dirinya sedang defensif. Dari sudut pandangnya, ia mungkin merasa sedang “menjelaskan fakta”, “meluruskan”, atau “membela keadilan”.
Bentuk defensif yang sering muncul di kantor:
- Denial: “Buka saya yang melakukan itu!”
- Justification: “Pekerjaan saya memang belum selesai, tapia da alasannya...”
- Counterattack: “Kok, cuma gua yang dikritik? Kan yang lain juga melakukan hal yang sama.”
- Blaming: “Kalau bukan karena tim ini, tugas saya pasti sudah kelar!”
- Minimizing: “Ah kayak gitu itu bukan masalah besar.”
- Argumentative: Setiap masukan langsung diperdebatkan
- Deflection: Mengubah pembicaraan ke kesalahan orang lain.
Sikap defensif ini jika tejadi terus menerus bisa membahayakan organisasi, karena sikap ini dapat menciptakan silus: