PejuangKantoran.com - Ketika gelombang layoff melanda perusahaan-perusahaan rintisan, perusahaan-perusahaan konvensional juga menghadapi problem klasik: karyawan andalan berniat resign. Kantor-kantor ini berjuang untuk membendung arus dan mempertahankan karyawan mereka yang paling berharga. Ketika ada anak buah kamu ingin bicara dengan niat mengundurkan diri, apa yang dapat kamu lakukan untuk mempertahankan mereka?
Fokus seputar apa yang bisa kamu ubah
Tahan diri untuk bertanya mengapa karyawan andalan mau resign. Hal itu membuat kamu bersikap defensif dan mungkin tidak mengarah pada percakapan yang produktif, kata Barbara Bruno, CEO perusahaan konsultan kepegawaian Good as Gold Training. Lebih baik tanyakan: “Apa perubahan yang bisa kami lakukan untuk membuat pekerjaan kamu lebih menyenangkan?”
Tawaran balik yang cukup besar mungkin dapat mempengaruhi pikiran karyawan untuk sementara. Namun, banyak yang akhirnya pergi setelah beberapa bulan karena kurangnya perubahan yang diharapkan, kata Bruno. Mengapa?
Baca Juga: 4 Tipe Kepribadian HRD yang Paling Menonjol. Nggak Ada Tipe 'Musuh Bersama', Lho!
• Alasan karyawan andalan mau resign tidak selalu karena gajinya kurang. "Kebanyakan orang berhenti karena bosnya, bukan perusahaannya," kata Bruno. Bos atau tim yang toxic bisa membuat karyawan menjauh. Terkadang, mengganti supervisor atau pindah divisi adalah hal yang diharapkan oleh karyawan.
• Tawarkan peluang untuk kemajuan karier. Banyak karyawan meninggalkan posisi mereka karena merasa tidak ada lagi ruang untuk berkembang. Sebagai atasan, perhatikan posisi baru yang cocok untuk anak buah kamu, atau proyek yang mungkin menonjolkan keterampilan unik mereka.
• Ingatkan mereka mengapa dulu mereka bergabung di perusahaan ini. Ketika karyawan putus asa dengan posisi mereka, ingatkan karyawan bahwa perusahaan ini masih sama dengan perusahaan yang pernah membuat mereka bersemangat untuk bekerja, saran Jan Rutherford, pendiri perusahaan pembinaan kepemimpinan Self Reliant Leadership.
Baca Juga: 10 Alasan Saat Izin ke Kantor untuk Interview Kerja. Kamu Punya Alasan Lain?
Terimalah bahwa mungkin sudah terlambat untuk menahan karyawan
Atasan yang baik seharusnya tidak terkejut ketika ada karyawan yang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Kadang-kadang itu bukan keputusan mendadak, kok. Karyawan ingin pindah karena mereka berjuang untuk menemukan tujuan dan rasa memiliki di perusahaan. Ketika atasan tidak menyadari kebutuhan karyawannya, seringkali sudah terlambat untuk menahan mereka.
Cari pengganti dari dalam
Kalau karyawan andalan ingin resign, kamu mungkin terdorong untuk segera merekrut karyawan baru. Meskipun begitu, cobalah untuk tidak mengabaikan daftar karyawan lain yang juga dapat diandalkan untuk mengisi kekosongan itu.
• Jangan mengandalkan exit interview. Karyawan jarang memberikan umpan balik yang jujur 100% selama wawancara keluar atau wawancara yang dilakukan HRD pada karyawan yang mau resign. Terkadang mereka ingin berpisah baik-baik untuk menghindari konflik dengan perusahaan, atau untuk mendapatkan referensi positif untuk pekerjaan di masa depan.
Baca Juga: Haruskah Memberitahu Si Bos Kalau Kamu Mau Interview Kerja di Tempat Lain?
• Dampingi tim yang tersisa. Setelah karyawan penting mengundurkan diri, evaluasi siapa yang kamu anggap sebagai yang teratas dari tim kamu, saran Dorie Clark, profesor bisnis dari Universitas Duke. Kemudian buka dialog untuk memahami apa yang mereka suka (dan tidak suka) tentang peran mereka. Berikan dukungan, dan tekankan betapa kamu menghargai pekerjaan mereka.
• Fokus pada hubungan. Karyawan sering mengundurkan diri karena merasa diremehkan dan tidak dihargai di tempat kerja. Apakah itu berarti kamu harus mengambil kursus pengembangan kepemimpinan atau memikirkan kembali gaya kepimpinan kamu, yang penting jadilah pemimpin yang membuat tim nyaman saat bekerja.
• Buat saluran untuk komunikasi. “Wawancara langsung” triwulanan adalah cara yang bagus untuk mengukur perasaan karyawan saat ini. Tanyakan mengapa mereka memutuskan untuk bertahan di perusahaan, dan apakah mereka memiliki bakat lain yang ingin mereka kembangkan. “Harus ada kemauan untuk membicarakan topik yang sulit,” kata Ryan. "Jika tidak membicarakannya, kompetitor kamu akan melakukannya."