PejuangKantoran.com - Bullying di tempat kerja memang bukan peristiwa langka. Hampir separuh orang Amerika (49%) telah terdampak intimidasi di tempat kerja, baik secara langsung atau menjadi saksi, demikian survei Workplace Bullying Institute.
Dalam sistem hybrid, bullying lebih tak terkendali. Pelecehan bisa mencakup “candaan yang menyinggung, cercaan, labeling atau name calling, serangan atau ancaman fisik, intimidasi, ejekan, hinaan, menunjukkan objek atau gambar yang menyinggung, dan gangguan terhadap kinerja,” demikian menurut The Equal Employment Opportunity Komisi (EEOC).
Dalam tim hybrid, penindas bersembunyi di balik anonimitas. Sebanyak 60% laporan InChorus tentang perilaku non-inklusif di tempat kerja dilakukan secara online, melalui email, konferensi video, atau aplikasi chatting.
Baca Juga: Boleh Percaya, Boleh Tidak: 4 Zodiak yang Tidak Bisa Mengatasi Stres di Tempat Kerja
“Dalam pengaturan hybrid, saya perhatikan rekan kerja di lokasi cenderung lebih banyak membuat masalah daripada karyawan WFH. Anggota tim hybrid sering memanfaatkan kedekatan mereka dan menggertak anggota WFH, ”kata Anjela Mangrum, pendiri Mangrum Career Solutions dan Certified Personnel Consultant.
Mereka sengaja tidak melibatkan rekan kerja yang sedang WFH dari pertemuan penting, menahan informasi penting, hingga bergosip tentang rekan kerja.
Karena penindasan dalam tim hybrid sulit dihindari, kamu harus hati-hati untuk mencegahnya. Begini cara mencegah bullying di tempat kerja dengan sistem hybrid:
1. Bangun proses orientasi yang solid
Siapa pun bisa menjadi korban, tetapi karyawan baru lebih berisiko mengalami intimidasi di tempat kerja akibat ketidaktahuan mereka mengenai staf dan organisasi.
“Karena itu, menjadwalkan kehadiran dan pelatihan secara teratur, dan memberikan umpan balik, merupakan langkah cerdas untuk mencegah dan mengenali setiap perundungan terhadap para pekerja ini,” katanya. Bangun proses sosialisasi yang solid dalam 90 hari pertama untuk membantu melawan perundungan di tempat kerja.
Baca Juga: Kasihan Amat, 2 dari 3 Milenial Tidak Mendapat Manfaat Break Makan Siang
2. Latih stafmu
Hal ini untuk menyadari mentalitas dan perilaku yang bermasalah –terutama staf senior. “Pengganggu sebenarnya lebih lazim di kalangan pemimpin perusahaan dan karyawan tingkat senior di dunia kerja. Umumnya atasan menekan bawahannya untuk memaksimalkan produktivitas dan menangani beban kerja yang tinggi secara tidak adil,” tambah Mangrum.
Menyebarkan kesadaran tentang tanda-tanda bullying sangat penting untuk mengatasinya sejak dini. Para pemimpin umumnya beralasan bahwa menekan adalah cara mereka mengelola karyawan.
3. Tanggapi pesan anonim
“Korban perundungan tidak selalu percaya diri, jadi penting untuk melakukan survei anonim secara rutin atau menggunakan aplikasi seperti DirectSuggest yang menjaga kerahasiaan karyawan,” saran Mangrum. Memiliki mekanisme umpan balik anonim dapat mencegah pengganggu dan mendorong korban untuk angkat bicara.
Baca Juga: Pria yang Insecure dengan Jabatannya Sering Flirting Di Kantor demi Kemajuan Kariernya
4. Awasi penurunan kinerja
Tanda-tanda intimidasi di tempat kerja yang tidak kentara antara lain menurunkan keterlibatan dan kinerja karyawan. Lakukan pertemuan one on one secara teratur dengan tim kamu. Kalau kamu mencurigai seseorang sedang diintimidasi, berhati-hatilah agar kamu tidak mengungkap jati dirinya.
Artikel Terkait
Waspada Lowongan Kerja Palsu, Ini Ciri-cirinya!
Festival ReadyToWork, Tempat buat Nambah Ilmu, Berburu Kerja, dan Berjejaring
4 Cara Agar Tak Tertipu Lowongan Kerja Palsu
Kerjaan Numpuk Masih Harus Antre Bayar Kopi? Ini Perlunya Pakai QRIS
UMK Bekasi 2023 Jadi Rp5,1 Juta, Lebih Tinggi dari UMP DKI Jakarta 2023