Kaum Perempuan dan Karyawan Baru Paling Berisiko Kehilangan Pekerjaan Di Inggris Akibat AI

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 29 Maret 2024 | 12:10 WIB
Ilustrasi: Golongan yang paling berisiko kehilangan pekerjaan akibat AI di antaranya pekerja entry-level, paruh waktu, dan pelaksana tugas-tugas administratif. (Freepik/Jcomp)
Ilustrasi: Golongan yang paling berisiko kehilangan pekerjaan akibat AI di antaranya pekerja entry-level, paruh waktu, dan pelaksana tugas-tugas administratif. (Freepik/Jcomp)

PejuangKantoran.com - Menurut studi baru dari Institute for Public Policy Research, kaum perempuan dan karyawan yang masih dalam tahap awal karir paling berisiko kehilangan pekerjaan akibat AI.

Bahkan studi tersebut memperingatkan bahwa AI bisa menghilangkan hampir 8 juta pekerjaan di Inggris. Para peneliti menganalisis 22.000 pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di seluruh Inggris, dan menemukan bahwa 11%-nya saat ini terancam penggusuran oleh AI.

Baca Juga: Jadwal Misa Jumat Agung di Keuskupan Agung Jakarta, Memperingati Kisah Sengsara Tuhan Yesus

Pekerjaan yang paling berisiko termasuk entry-level, paruh waktu, dan tugas-tugas administratif, yang secara tidak proporsional dipegang oleh kaum perempuan.

Meski begitu, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan Inggris untuk mencegah hilangnya pekerjaan dan memanfaatkan AI untuk lonjakan ekonomi.

"Dunia kerja pengetahuan akan ditransformasikan oleh AI generatif," demikian isi laporan hasil studi tersebut, mengacu pada jenis AI yang dapat membuat konten, seperti teks atau gambar.

"Kita harus mulai mempersiapkan diri untuk hal ini sekarang."

Baca Juga: Hush Trip, Tren Baru bagi Remote Worker yang Ingin Lebih Bebas (Tapi Risikonya Sulit Diabaikan)

Laporan yang dirilis pada Selasa (26/3/2024) itu menyajikan proposal kebijakan yang diyakini oleh para penulisnya dapat mengurangi kemungkinan hilangnya pekerjaan dan meningkatkan kemungkinan ledakan ekonomi yang disebabkan oleh AI.

Sebuah kebijakan akan mengamanatkan penggunaan keterlibatan manusia secara berkelanjutan untuk tugas-tugas tertentu, seperti diagnosis medis.

Kombinasi insentif pemerintah dan kemitraan publik-swasta dapat membantu mencapai tujuan tersebut.

Dalam skenario yang paling optimis, laporan tersebut menguraikan masa depan  penggunaan AI di mana tidak ada pekerjaan yang hilang dan produk domestik bruto meningkat sebesar 13%.

Baca Juga: Sekarang Whatsapp Memungkinkan Pengguna Mengirim Foto dan Video Ukuran HD Secara Otomatis

"Tidak ada satu jalur yang telah ditentukan sebelumnya tentang bagaimana implementasi AI akan berjalan," kata para penulis laporan tersebut.

Posisi yang bergaji tinggi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: abcnews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X