PejuangKantoran.com - Anna Sebastian Perayil (26) baru empat bulan bekerja sebagai akuntan di SR Batliboi, anak perusahaan Ernst & Young Global, di Pune, kota di negara bagian Maharashtra bagian barat, India.
Namun dalam masa kerjanya yang begitu singkat, Anna meninggal dunia. Pada The News Minute, ayah Anna mengatakan bahwa kematian anaknya disebabkan oleh kombinasi dari berbagai masalah termasuk refluks asam lambung, stres kerja, dan tekanan pekerjaan.
Sedangkan menurut ibunya, Anita Augustine, dalam suratnya kepada pimpinan EY India, Anna yang mulai bekerja di EY Pune pada bulan Maret, mengalami beban kerja, lingkungan baru, dan jam kerja yang panjang.
Baca Juga: Tupperware Terancam Bangkrut Setelah 78 Tahun, Namun Sejarah Lunchbox Sendiri Lebih Tua Usianya
Hal itu membebani diri Anna secara fisik, emosional, dan mental, sampai akhirnya ia menghembuskan napas terakhir pada Juli 2024.
Tidak ada keringanan
Dalam suratnya kepada pemimpin EY, yang kemudian tersebar di media sosial, Augustine menyebut Anna yang bekerja sebagai chartered accountant (CA) adalah anak berprestasi sejak kecil.
Anna dinilai sukarela memenuhi tuntutan di perusahaan tersebut. Namun, beban kerja mengharuskannya siap siaga setiap hari.
"Menuntut anak baru dengan kerja yang berat, membuat mereka kerja setiap siang dan malam, bahkan Minggu, tidak ada keringanan sama sekali," tulis sang ibu dalam surat yang dilayangkannya ke EY pada Juli 2024 itu.
Bulan itu juga, Augustine membawa Anna ke dokter setelah putrinya mengatakan mengalami penyempitan dada selama sekitar seminggu.
Baca Juga: 5 Alasan Harga Tiket Pesawat Domestik Lebih Mahal daripada Harga Tiket Internasional
Dokter meresepkan antasida, dan menyampaikan bahwa Anna tidak cukup tidur dan sangat terlambat makan.
Meskipun demikian, lanjut Augustine dalam suratnya, putrinya tetap bekerja sampai larut malam, bahkan di akhir pekan, tanpa ada kesempatan untuk beristirahat.
"Pengalaman Anna menyoroti budaya kerja yang tampaknya mengagungkan kerja berlebihan sambil mengabaikan manusia di balik peran tersebut.
“Ini bukan hanya tentang putri saya, ini tentang setiap profesional muda yang bergabung dengan EY yang penuh dengan harapan dan impian, hanya untuk dihancurkan oleh beban ekspektasi yang tidak realistis," tulisnya.
Artikel Terkait
Linkin Park Umumkan Vokalis Baru Emily Armstrong, 7 Tahun Setelah Kematian Chester Bennington
Overtourism, Wisatawan Membludak Tak Selalu Menjadi Kabar Baik. Ini Dampak dan Solusinya
Pro dan Kontra Membajak Karyawan dari Perusahaan Kompetitor, Siapa Paling Diuntungkan?
Tulang Belulang Tulang Angkat Cerita Tentang Harkat Diri Keluarga Melalui Balutan Tradisi Batak
Tupperware Terancam Bangkrut Setelah 78 Tahun Beroperasi, Ini Biang Keroknya!
Ada Proyek Rekonstruksi Jalan Tol Jakarta-Cikampek selama Seminggu, Ini Antisipasi Kemacetannya!
Ada Fenomena Equinox di Indonesia, Benarkah Ini Penyebab Cuaca Terasa Makin Panas?