PejuangKantoran.com - Modus penipuan sekarang ini makin bermacam-macam. Kali ini, ada modus penipuan tagihan pajak yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan.
Penipuan dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai pegawai DJP dan menghubungi kamu sebagai wajib pajak. Komunikasi awalnya dilakukan dengan cara mengirim pesan melalui email dan pesan online.
Dalam pesannya tertulis bahwa kamu memiliki tagihan pajak dan diminta untuk segera menyelesaikan tunggakan. Nah, pembayaran tunggakan ini harus dilakukan melalui penipu dengan cara mengirim sejumlah uang.
Baca Juga: Soal Tarif KRL Berbasis NIK atau Harga Tiket KRL Naik, Kemenhub Minta Jangan Tebak-tebakan
Mengutip dari CNBC Indonesia, dalam keterangan persnya Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Dwi Astuti mengimbau masyarakat untuk tidak percaya dengan modus penipuan ini.
Ia menegaskan, "Pelunasan tunggakan pajak hanya dilakukan ke kas negara melalui pembayaran kode billing, bukan ke rekening milik perorangan atau lembaga."
Jadi, pembayaran dilakukan melalui ATM, internet banking, mobile banking, agen branchless banking, mesin EDC (electronic data capture), atau langsung di loket bank/pos persepsi.
Selain lewat cara-cara tersebut, bisa dipastikan itu adalah modus penipuan tagihan pajak.
Macam-macam modus penipuan pajak
Dilansir dari Pajak.com, selain modus penipuan terbaru tersebut, Dwi juga memberitahukan beberapa modus lain yang juga masih sering terjadi dan merugikan masyarakat.
Baca Juga: Lolos Seleksi Administrasi, Siap-Siap Ikut Tes SKD CPNS 2024. Ini Materi dan Bobot Penilaiannya!
1. Melalui pesan WhatsApp
Jadi, kamu akan mendapatkan pesan Whatsapp berisi file dengan ekstensi apk yang mengatasnamakan DJP. Jika ini terjadi, jangan langsung percaya.
Periksa nomor tersebut di laman resmi DJP sesuai Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdaftar. Tautan seluruh KPP dapat dilihat pada laman https://pajak.go.id/unit-kerja.
2. Melalui e-mail
Artikel Terkait
Fakta-Fakta Mengapa Tupperware Disukai Ibu-Ibu: Dari Kekuatan Produk hingga Tradisi Arisan
Ada Fenomena Equinox di Indonesia, Benarkah Ini Penyebab Cuaca Terasa Makin Panas?
Profil Heri Hermansyah, Rektor Baru UI yang Pernah Jadi Guru Besar Termuda di Fakultas Teknik
5 Alasan Harga Tiket Pesawat Domestik Lebih Mahal daripada Harga Tiket Internasional
Tupperware Terancam Bangkrut Setelah 78 Tahun, Namun Sejarah Lunchbox Sendiri Lebih Tua Usianya
Tragis, Meninggalnya Karyawan Ernst & Young akibat Kelelahan Kerja Ditepis Bos Perusahaan
Perusahaan Dapat Berperan Mencegah Kelelahan Kerja akibat Pekerjaan yang Berlebihan