Karyawati Ini Dipecat Karena Hamil Lagi Sehabis Cuti Melahirkan, Segini Pesangon yang Diterima

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 10 November 2024 | 16:00 WIB
Ilustrasi: Si bos semula menerima karyawannya yang bersiap kembali bekerja setelah cuti melahirkan, sampai ia mengaku hamil lagi. (Freepik/DC Studio)
Ilustrasi: Si bos semula menerima karyawannya yang bersiap kembali bekerja setelah cuti melahirkan, sampai ia mengaku hamil lagi. (Freepik/DC Studio)

Perusahaan sedang kesulitan keuangan?

Bulan berikutnya, ketika cuti melahirkannya resmi berakhir, Nikita mengatakan tidak ada seorang pun dari First Grade yang menghubunginya untuk membahas kapan ia kembali bekerja.

Tanggal 27 Maret, Nikita mengatakan bahwa dia ingin kembali bekerja pada 3 April 2023, tetapi bosnya mengatakan bahwa lebih baik ia menundanya sampai punya rutinitas yang tepat.

Baca Juga: Jangan Sembarangan Pilih Warna Pakaian Saat Wawancara Kerja. Berikut Alasannya Dan Rekomendasinya

Nikita juga mengatakan, baru pada bulan April dia menyadari bosnya bertindak tidak seperti biasanya. Saat itu ia menanyakan tentang niat mengambil cuti tahunan selama bulan pertamanya kembali bekerja.

Jeremy tidak membalas pesan-pesan Nikita sampai 18 April. Tetapi setelah itu Jeremy menelepon: Nikita diberhentikan karena perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan sedang melakukan penghematan.

Dia kemudian mengklaim bahwa software baru yang akan menggantikan pekerjaan Nikita sedang dipasang. Artinya, Nikita dipecat saat hamil.

Namun Hakim ketenagakerjaan, Robin Havard, mengatakan bahwa alasan Jeremy untuk memecat Nikita sebenarnya adalah karena kehamilannya.

First Grade disebut tidak mampu memberikan bukti apa pun tentang dugaan kesulitan keuangan, mengenai software baru, serta penjelasan alternatif dengan bukti-bukti yang koheren.

Perusahaan malah mengubah image, merekrut, dan membeli kendaraan baru sejak memecat Nikita.

Baca Juga: Ini 12 Bahasa Asing Yang Wajib Dikuasai dan Skor Masing-Masing Berdasar Kegunaannya

Hakim menyimpulkan bahwa Nikita diberhentikan secara tidak adil, dan hal itu menyebabkan kecemasan dan tekanan nyata selama kurun waktu tertentu.

Ia dipecat saat hamil dan kehilangan rasa aman secara finansial dengan semua tanggung jawab keluarga yang dimilikinya.

“Ada cukup fakta untuk menyimpulkan bahwa perlakuan tidak menguntungkan dari responden terhadap penggugat disebabkan oleh kehamilan, dan bahwa perilaku responden bersifat diskriminatif,” demikian kesimpulan pengadilan.

Untuk itu, pengadilan memutuskan First Grade Projects harus memberikan kompensasi lebih dari $37.000 (sekitar Rp579 juta) kepada Nikita Twitchen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X