Penggunaan AI di Bidang Kedokteran Tak Boleh Sembarangan, Jangan Sampai Merugikan Pasien!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 18 Januari 2025 | 10:07 WIB
Ilustrasi: Penggunaan AI di bidang kedokteran hanya untuk mengotomatisasi tugas-tugas. (Freepik/Creative Art)
Ilustrasi: Penggunaan AI di bidang kedokteran hanya untuk mengotomatisasi tugas-tugas. (Freepik/Creative Art)

PejuangKantoran.com - Teknologi AI sudah mulai masuk ke berbagai ranah kehidupan, termasuk dalam dunia kedokteran.

Saat ini, ada 1.400 praktik dokter umum di seluruh Inggris yang memanfaatkan C the Signs.
Ini adalah platform yang menggunakan AI untuk menganalisis rekam medis pasien, memeriksa berbagai tanda, gejala, dan faktor risiko kanker, serta merekomendasikan tindakan apa yang harus diambil.

“Platform ini dapat menangkap gejala, seperti batuk, pilek, kembung hanya dalam satu menit dapat melihat apakah ada informasi yang relevan dari riwayat kesehatan pasien,” jelas kepala eksekutif dan salah satu pendiri C the Signs, Dr. Bea Bakshi.

Baca Juga: Sensasi Pedasnya Bikin Ketagihan, tapi Kebanyakan Makan Seblak Bisa Bikin Anemia

AI bukan untuk mendiagnosis

Dr Bakshi, yang juga seorang dokter umum ini, mengatakan bahwa penggunaan AI di bidang kedokteran seperti pemakaian alat C the Signs dilatih berdasarkan makalah penelitian medis yang telah dipublikasikan.

“Misalnya, jika dikatakan pasien berisiko terkena kanker pankreas maka akan diberikan saran untuk pemindaian pankreas dan dokter akan memutuskan untuk merujuk ke jalur tersebut,” katanya.

Jadi, pemeriksaan yang dilakukan oleh AI ini tidak akan mendiagnosis, tetapi dapat memfasilitasi.

Ia mengaku bahwa alat tersebut telah melakukan lebih dari 400.000 penilaian risiko kanker dan mendeteksi lebih dari 30.000 pasien kanker di lebih dari 50 jenis kanker yang berbeda.

Dokter tak bisa hanya mengandalkan AI

Baca Juga: Film Sebelum 7 Hari Mengangkat Kisah Arwah Nenek yang Gentayangan dengan Eskalasi Ketegangan Bertahap

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh BMA tahun ini, menemukan bahwa AI memang seharusnya diharapkan dapat mengubah—bukannya menggantikan—pekerjaan perawatan kesehatan.

Caranya adalah dengan mengotomatisasi tugas-tugas rutin dan meningkatkan efisiensi.

Namun, Dr. Katie Bramall-Stainer, ketua Komite Praktik Umum Inggris di BMA, mengingatkan bahwa penggunaan AI di bidang kedokteran bukanlah segalanya.

“Jika tidak diterapkan dengan aman, AI dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar sehingga berpotensi membahayakan privasi pasien,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: BBC

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X