PejuangKantoran.com - Perusahaan raksasa di bidang teknologi terus melakukan perampingan karyawan, termasuk Meta. Perusahaan ini menggunakan pendekatan yang dijalankan Amazon beberapa tahun sebelumnya.
Pendekatan tersebut adalah berfokus pada kinerja dalam manajemen tenaga kerja. Meta akan mengeluarkan mereka yang berkinerja buruk untuk mempertahankan tim yang ramping dan berkinerja tinggi.
Minggu lalu, Meta mengumumkan secara internal bahwa mereka berencana untuk memangkas 5% karyawan dengan kinerja terendah.
Hal ini merupakan yang pertama bagi platform media sosial tersebut, sebagai bagian dari strategi perbatasan untuk "menaikkan standar," begitu menurut memo dari CEO Mark Zuckerberg.
Itulah filosofi lama yang diterapkan Amazon dalam mempertahankan target omzet tahunan yang ketat, yang dikenal sebagai unregretted attrition atau URA.
Para manajer Amazon diperkirakan akan memberhentikan sejumlah karyawan yang dianggap kurang perform secara berkala. Bahkan CEO Amazon Andy Jassy dulunya punya target URA untuk mengganti 6% timnya setiap tahun.
“Tren yang terjadi adalah perusahaan merasa mereka memiliki kekuasaan lebih besar atas karyawannya,” kata Laszlo Bock, mantan Senior Vice President of People Operations di Google Inc.
"Lingkungan politik saat ini membuat para CEO berani mengambil tindakan drastis."
Ketika Donald Trump terpilih kembali sebagai Presiden AS pada bulan November, menurut Bock perusahaan teknologi, yang telah memperjuangkan kebijakan tempat kerja yang progresif dan inisiatif yang ramah terhadap karyawan pada tahun 2016, kini mengambil pendekatan yang sangat berbeda.
Perubahan dalam cara Meta mengelola karyawan menandai perubahan signifikan dari strategi manajemen karyawan Silicon Valley.
Selama bertahun-tahun, perusahaan teknologi terkemuka diketahui terlalu tinggi menggaji para pekerja berbakat— bahkan yang sebenarnya tidak sepenuhnya produktif— agar mereka tidak disaingi kompetitor.
"Model bisnis mereka berkembang pesat dengan margin yang luar biasa, sehingga mereka merekrut secara bebas, sambil menyadari bahwa jika ada beberapa karyawan yang kinerjanya buruk, setidaknya mereka tidak mendongkrak persaingan," kata Bock.
Baca Juga: Pemerintah Segera Wujudkan Program 3 Juta Rumah Gratis, Siapa yang Berhak Menerimanya?
Namun pemikiran seperti itu tampaknya sudah berubah.
Menyingkirkan karyawan berkinerja buruk
Melalui memonya, Hillary Champion, Director of People Development Growth Programs Meta, menginstruksikan para manajer untuk mengidentifikasi karyawan yang berkinerja buruk melalui sistem pemeringkatan berjenjang.
Artikel Terkait
Dampak Negatif Jadi People Pleaser di Tempat Kerja dan Cara Menghentikannya!
6 Cara Meningkatkan Kemampuan dan Keterampilan Sebagai Pemain Tim di Kantor
Menurut Pelatih Lari Bersertifikat, Pelari Wajib Konsumsi Karbohidrat. Ini Alasannya!
Gong Yoo dan Song Hye-kyo Bersatu dalam Drama Terbaru, Mulai Syuting 2025
Fenomena Lavender Marriage yang Sedang Viral, Kenapa Jadi Heboh?
5 Makanan 'Sehat' Namun Berpotensi Tak Sehat. Perhatikan Kandungan Nutrisi dan Porsinya!
BRImo Capai 38,61 Juta Pengguna, Menjadi Super App Terbesar di Indonesia