Pejuangkantoran.com – Tradisi silaturahmi di Hari Lebaran dalam rangka merayakan Idulfitri itu tidak muncul begitu saja. Tradisi ini di Indonesia sudah muncul sejak lama hasil dari proses panjang historis dan kultural.
Tradisi ini berakar dari ajaran Islam. Konsep silaturahmi diserap dari shilat ar-rahim. Frasa ini gabungan dari kata shilah yang artinya menyambung atau menghubungkan dan ar-rahim yang secara makna luas berarti hubungna kekerabatan/kekeluargaan.
Jadi secara bahasa, shilat ar-rahim artinya adalah meyambung hubungan kekerabatan.
Konsep ini sudah dikenalkan di masa Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan untuk menjaga hubungan keluarga dan sosial serta ditekankan pada momen hari raya seperti Idulfitri.
Namun bentuk saling mengunjungi massal seperti yang kita lihat sekarang di Indonesia, belum spesifik ada di kawasan timur Tengah di masa itu.
Saat Islam masuk kawasan Nusantara melalui dan menyebar di Pulau Jawa, Sumatera, dan lain-lain pada abad 13-16, konsep shilat ar-rahim ini sudah pasti menjadi bagian dari itu. Mereka yang membawa adalah para ulama dan pedagang, termasuk dalam hal ini ulama-ulama Timur Tengah yang kemudian dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai Wali Songo.
Baca Juga: Perkiraan Nutrisi per Butir Kue Kering Lebaran dan Strategi Aman Menyantapnya
Mengadaptasi Budaya Lokal
Para ulama ini, meski membawa dan mengajarkan Islam, namun tidak menghapus budaya lokal, namun mengadaptasi.
Dari sini lalu munculah tradisi berkumpul setelah Hari Raya Idulfitri. Karena dirayakan setelah menyelesaikan ibadah puasa, maka tradisi berkumul ini diberi istilah Lebaran. Dalam bahasa Jawa, “lebar” (diucapkan seperti kata “lemas”) artinya selesai/usai.
Artinya, waktu menjalankan puasa Ramadhan sudah selesai.
Lebaran ini menggabungkan nilai-nilai Islami dengan budaya kekeluargaan masyarakat Nusantara.
Lalu pada era Kesultanan Jawa (abad 16-18), tradisi ini berkembang lagi dengan tradisi sungkeman. Dalam lingkungan keraton ada tradisi sungkeman, yaitu meminta maaf kepada orang tua/raja yang dilakukan setelah Idulfitri.
Tradisi ini kemudian menjadi cikal-bakal budaya maaf-maafan yang sekarang identik dengan silaturahmi Lebaran di Indonesia.
Artikel Terkait
Mau Bikin Kue Kering Lebaran Sendiri? 10 Tips Membuat Kue Kering Renyah dan Tahan Lama
4 Motivasi Orang Melakukan Ziarah Kubur dalam Islam
20 Ucapan Selamat Idulfitri untuk Rekan Kerja di Kantor
Waspada! Kue Kering Lebaran Bisa Jadi "Musuh" Program Diet Kamu!
6 Amalan Sunnah yang Sering Kali Terlupakan Saat Hari Raya Idulfitri
Wacana WFH Seminggu Sekali Usai Lebaran 2026, Upaya Hemat Energi di Tengah Tekanan Global