Ini Alasan Mengapa 4.000 Karyawan Pabrik Nike di Kabupaten Bandung Dirumahkan Sejak 15 Juni 2026

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 22 Juni 2026 | 15:50 WIB
Ilustrasi: Sebanyak 4.000 karyawan pabrik Nike di Banjaran, Soreang, Kabupaten Bandung, dirumahkan sejak 15 Juni 2026. (Youtube @satisfyfactory/Made with AI)
Ilustrasi: Sebanyak 4.000 karyawan pabrik Nike di Banjaran, Soreang, Kabupaten Bandung, dirumahkan sejak 15 Juni 2026. (Youtube @satisfyfactory/Made with AI)

PejuangKantoran.com - Sekitar 4.000 pekerja PT Feng Tay, perusahaan manufaktur yang memasok sepatu Nike, terancam mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Meskipun belum resmi di-PHK, karyawan perusahaan yang berlokasi di Banjaran, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu sudah dirumahkan sejak 15 Juni 2026.

"Sekitar 4.000 pekerja pabrik sepatu Nike di Bandung dirumahkan. Dua hari yang lalu terinfo dari pengurus KSPN (Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara) bahwa mulai 15 Juni 2026 sekitar 4.000 pekerja dari total jumlah pekerja 14 ribuan, dirumahkan," ungkap Presiden KSPN Ristadi kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Studio Animasi Surabaya Garap Karakter Alien dari Bangkai UFO yang Ditemukan Pengepul Besi di 'Foufo'

Penyebab karyawan Nike dirumahkan

Alasan dirumahkannya 4.000 karyawan pabrik Nike tersebut lantas dijelaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton Supit. Pekerja rupanya tidak lagi bekerja karena minimnya pesanan dari pasar global.

Seperti industri garmen, industri alas kaki sangat dipengaruhi oleh permintaan ekspor. Ketika kondisi pasar dunia melambat, pesanan untuk merek-merek internasional pun semakin berkurang. Alhasil, aktivitas pabrik Nike juga menurun.

"Jadi persepatuan sekarang itu kan kita eksportir pasar global. Nah, jadi kalau pasar global itu kan sangat tergantung kondisi global juga. Kalau ekonomi menurun pasti order menurun," ujar Anton, seperti dikutip CNBC Indonesia pada Jumat (19/6/2026).

Jenama internasional menerapkan sistem worldwide sourcing, di mana produksi alas kaki diproduksi di beberapa negara, terutama China, Vietnam, dan Indonesia.

Jika terjadi penurunan order, perusahaan mengutamakan pesanan ke lokasi pabrik yang dinilai paling efisien untuk memberikan keuntungan yang terbaik. Dengan demikian, setiap pabrik harus punya daya saing untuk memperebutkan pesanan global.

Baca Juga: Mengenal ‘Sleep Hygiene’, Cara Perbaiki Pola Tidur Demi Produktivitas Kerja yang Maksimal

"Sebagai yang punya pabrik tentunya dia akan melihat di mana produksi yang paling baik," jelas Anton.

Anton juga menjelaskan bahwa penyebab menurunnya aktivitas pekerja PT Feng Tay tidak ada hubungannya dengan kurangnya bahan baku dari Amerika Serikat. Sebab, industri sepatu nasional tidak bergantung pada impor bahan baku dari Amerika Serikat.

Sebagian besar bahan baku sepatu diperoleh dari dalam negeri, atau dari negara-negara seperti China dan Vietnam, dan sebagian besar dari bahan baku lokal.

Penelusuran Said Iqbal

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: CNBC Indonesia, Media Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X