news

Malaysia Bakal Gigit Jari, Tarian Pacu Jalur yang Dibawakan 'King Dikha' Tak Bisa Diakui Negara Lain?

Jumat, 11 Juli 2025 | 13:05 WIB
Aksi penari cilik Pacu Jalur Rayyan Arkan Dhika di atas perahu yang melaju kencang menjadi perhatian dunia. (Foto: Dokumentasi/Pemprov Riau)

PejuangKantoran.com - Baru-baru ini, tradisi Pacu Jalur dari Riau mendunia setelah tren “Aura Farming” viral di TikTok dan Instagram. 

Tren tersebut dipicu oleh tarian khas pengiring di haluan perahu, yang oleh masyarakat disebut sebagai Anak Coki.

Warganet mulai memperhatikan tarian tersebut setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming meniru tarian Anak Coki dalam konten di akun Instagram-nya.

Baca Juga: Tarif Trump 32% ke RI Picu Kekhawatiran Investor, Strategi Diversifikasi Disarankan

Salah satu bintang baru dari tradisi ini adalah Rayyan Arkan Dikha, bocah 11 tahun asal Desa Pintu Gobang Kari, Kuantan Tengah.

Dikha, yang kini dijuluki "King Dikha" karena aksinya, sudah menekuni peran Anak Coki sejak usia 9 tahun dan dikenal atas kemampuannya menjaga keseimbangan di atas perahu yang melaju kencang.

Saking viralnya video tarian Pacu Jalur ini, gerakan Dikha bahkan ditiru oleh banyak selebriti dan pesepakbola terkenal, dari Steve Aoki, aktor Diego Luna, bahkan Achraf Hakimi dari PSG dan para pembalap F1.

Pada 8 Juli 2025, Gubernur Riau Abdul Wahid, menetapkan Dikha sebagai Duta Pariwisata Riau. Ini dilakukan sebagai apresiasi atas perannya mengenalkan budaya lokal Indonesia ke panggung dunia.

Apa itu Pacu Jalur?

Pacu Jalur adalah perlombaan perahu panjang tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

Baca Juga: Kelelahan karena Beban Kerja Tambahan Bisa Membuat Kamu Merasakan Citizenship Fatigue, Apa Itu?

Bentuknya berupa lomba mendayung perahu kayu sepanjang 25 – 40 meter dengan awak hingga 60 orang.

Perlombaan ini sudah ada sejak abad ke‑17 dan semula menjadi sarana transportasi serta bagian dari upacara keagamaan Islami sebelum berkembang sebagai event festival tahunan.

Diklaim oleh Malaysia

Setelah videonya viral, perlombaan tersebut menjadi perdebatan karena masyarakat Malaysia sempat mengklaimnya sebagai budaya mereka.

Halaman:

Tags

Terkini