Sementara itu, negara seperti Amerika Serikat atau Inggris mungkin punya total waktu online yang tinggi, tetapi lebih banyak dihabiskan lewat laptop untuk urusan kerja.
Yang membuat kita susah lepas dari ponsel
Laporan pada tahun 2025 menyebut ada tiga hal utama:
Baca Juga: Atasi Jet Lag dengan Cara Profesional, Ini 5 Tips Sederhana yang Benar-Benar Ampuh!
1. Video pendek. YouTube, TikTok, dan Reels menyedot waktu paling banyak. Bahkan dengan munculnya “kelelahan digital”, video pendek tetap jadi favorit.
2. Super-app. Di Indonesia dan Asia Tenggara, aplikasi serbabisa seperti Gojek, Grab, dan Shopee nggak cuma untuk belanja online tetapi juga banyak fitur dan fasilitas lain. Ini membuat orang makin tenggelam dengan ponselnya.
3. Internet cepat dan murah. Kecepatan internet mobile yang semakin ngebut, dengan rata-rata global 61,5 Mbps, dan paket data yang makin terjangkau, membuat streaming dan scrolling makin lancar.
Antara nyaman dan kecanduan
Namun, tren ini tidak cuma soal teknologi. Beberapa negara mulai khawatir dengan dampaknya terhadap kesehatan mental.
Contohnya, Korea Selatan yang melarang penggunaan ponsel di ruang kelas karena meningkatnya kecemasan dan distraksi di kalangan pelajar.
Di Indonesia sendiri, diskusi soal keseimbangan antara “hidup digital” dan “hidup nyata” juga makin ramai. Pertanyaannya bukan lagi apakah ponsel itu baik atau buruk, tetapi apakah kita masih punya kendali atas cara kita menggunakannya.
Pada akhirnya, laporan ini mengingatkan kita bahwa dunia makin mobile-first. Namun, mungkin yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita tetap jadi pengguna yang sadar, bukan hanya terseret arus notifikasi.