'Hanya Namamu dalam Doaku' Angkat Dinamika Hubungan Pengidap ALS dengan Para Caregiver-nya

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Senin, 18 Agustus 2025 | 10:09 WIB
Film Hanya Namamu dalam Doaku mengangkat perjuangan seorang pengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis. (Sinemaku Pictures)
Film Hanya Namamu dalam Doaku mengangkat perjuangan seorang pengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis. (Sinemaku Pictures)

PejuangKantoran.com - Diproduseri oleh Prilly Latuconsina, Umay Shahab, dan Bryan Domani, mencoba mengangkat tema yang lebih dewasa dan kompleks.

Tak sekedar drama keluarga, film ini menghadirkan perjuangan pengidap ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit langka yang menyerang saraf. Bagaimana dinamika hubungan antara sang pejuang beserta keluarga dan sahabat yang memegang peran penting sebagai caregiver.

“Kalau di film sebelumnya kita tuh selalu mengangkat cerita dengan perspektif dari anak. Mimpi Sinemaku Pictures adalah juga bisa bikin film keluarga yang hangat, dan perspektifnya bukan sudut pandang dari anak saja, tapi dari istri, suami maupun ibu dan ayah.

Baca Juga: Kerja Tanpa Topeng: Cara Perusahaan Bikin Karyawan Merasa Aman Secara Psikologis

"Menurut saya, di keluarga itu fondasi terpenting selain anak, adalah orang tua. Bagaimana orangtua bisa membangun keluarga menjadi tim,” ujar Prilly Latuconsina di gala premiere Hanya Namamu Dalam Doaku di Plaza Indonesia, Rabu (13/08/2205).

Prilly, yang bertindak sebagai direktur pemasaran, menyosialisasikan tema dan cerita film dengan pemaparan karakter secara detail, mulai dari pemikiran, perasaan, hingga respons tiap karakter.

“Kami mencoba membangun banyak perspektif. Membuka apa yang masing-masing karakter rasakan. Kami tidak melihat masalah dari satu kacamata, melainkan dari beberapa karakter.

"Pesan yang paling penting di Hanya Namamu dalam Doaku adalah bagaimana kita bisa merawat kehidupan. Punya waktu sama orang-orang yang kita sayang, dan berkomunikasi dengan baik sama mereka.

"Juga memanfaatkan semua yang kita punya mulai dari kebaikan, pertemanan, hingga support system. Itulah cara kita merawat kehidupan sekaligus narasi yang kita munculkan di marketing,” tutur Prilly.

Film yang disutradarai Reka Wijaya ini mengangkat kisah keluarga Arga (Vino G. Bastian) dan Hanggini (Nirina Zubir) dengan anak semata wayang mereka, Nala (Anantya Kirana), yang menjalani kehidupan harmonis.

Baca Juga: Lima Panggung Hiburan Disiapkan untuk Pesta Rakyat HUT ke-80 RI di Monas

Namun, keharmonisan kehidupan keluarga kecil ini berangsur sirna ketika Arga divonis menderita ALS. Sebagai kepala keluarga, Arga menyimpan rapat rahasia penyakit ini agar tidak melukai istri dan anaknya.

Namun, karena kurang komunikasi, yang terjadi di antara keluarga ini justru kesalahpahaman dan saling menyakiti.

“Kebetulan saya senang menonton film keluarga. Jadi, tergerak juga ingin buat. Tapi, apa yang bisa diangkat dalam film cerita keluarga? Konflik rumah tangga yang seperti apa?

"Ternyata bagaimana berkomunikasi dengan pasangan itu sangat penting. Bagaimana keluarga merespons ketika musibah atau ujian yang dikasih sama Tuhan datang?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X