PejuangKantoran.com - Diproduseri oleh Prilly Latuconsina, Umay Shahab, dan Bryan Domani, mencoba mengangkat tema yang lebih dewasa dan kompleks.
Tak sekedar drama keluarga, film ini menghadirkan perjuangan pengidap ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit langka yang menyerang saraf. Bagaimana dinamika hubungan antara sang pejuang beserta keluarga dan sahabat yang memegang peran penting sebagai caregiver.
“Kalau di film sebelumnya kita tuh selalu mengangkat cerita dengan perspektif dari anak. Mimpi Sinemaku Pictures adalah juga bisa bikin film keluarga yang hangat, dan perspektifnya bukan sudut pandang dari anak saja, tapi dari istri, suami maupun ibu dan ayah.
Baca Juga: Kerja Tanpa Topeng: Cara Perusahaan Bikin Karyawan Merasa Aman Secara Psikologis
"Menurut saya, di keluarga itu fondasi terpenting selain anak, adalah orang tua. Bagaimana orangtua bisa membangun keluarga menjadi tim,” ujar Prilly Latuconsina di gala premiere Hanya Namamu Dalam Doaku di Plaza Indonesia, Rabu (13/08/2205).
Prilly, yang bertindak sebagai direktur pemasaran, menyosialisasikan tema dan cerita film dengan pemaparan karakter secara detail, mulai dari pemikiran, perasaan, hingga respons tiap karakter.
“Kami mencoba membangun banyak perspektif. Membuka apa yang masing-masing karakter rasakan. Kami tidak melihat masalah dari satu kacamata, melainkan dari beberapa karakter.
"Pesan yang paling penting di Hanya Namamu dalam Doaku adalah bagaimana kita bisa merawat kehidupan. Punya waktu sama orang-orang yang kita sayang, dan berkomunikasi dengan baik sama mereka.
"Juga memanfaatkan semua yang kita punya mulai dari kebaikan, pertemanan, hingga support system. Itulah cara kita merawat kehidupan sekaligus narasi yang kita munculkan di marketing,” tutur Prilly.
Film yang disutradarai Reka Wijaya ini mengangkat kisah keluarga Arga (Vino G. Bastian) dan Hanggini (Nirina Zubir) dengan anak semata wayang mereka, Nala (Anantya Kirana), yang menjalani kehidupan harmonis.
Baca Juga: Lima Panggung Hiburan Disiapkan untuk Pesta Rakyat HUT ke-80 RI di Monas
Namun, keharmonisan kehidupan keluarga kecil ini berangsur sirna ketika Arga divonis menderita ALS. Sebagai kepala keluarga, Arga menyimpan rapat rahasia penyakit ini agar tidak melukai istri dan anaknya.
Namun, karena kurang komunikasi, yang terjadi di antara keluarga ini justru kesalahpahaman dan saling menyakiti.
“Kebetulan saya senang menonton film keluarga. Jadi, tergerak juga ingin buat. Tapi, apa yang bisa diangkat dalam film cerita keluarga? Konflik rumah tangga yang seperti apa?
"Ternyata bagaimana berkomunikasi dengan pasangan itu sangat penting. Bagaimana keluarga merespons ketika musibah atau ujian yang dikasih sama Tuhan datang?
Artikel Terkait
Uang Memang Bisa Beli Kebahagiaan, Syaratnya: Kalau Dipakai dengan Benar!
Masyarakat Diimbau untuk Menghentikan Aktivitas selama 3 Menit saat Detik-detik Proklamasi
Kisah Inspiratif Anak Penjual Pakaian Bekas dan Penjual Bakso yang Berhasil Jadi Paskibraka Nasional 2025
Ingin Naik Jabatan di HR, Ada Lowongan Kerja Assistant Manager di Richdale International Nih!
Gaji Analis IT di Indonesia Ternyata Segini! Ketahui Juga Tugas dan Skill yang Dibutuhkan
Bukan Biar Deg-degan, Ini Alasan Posisi Paskibraka Baru Diumumkan 17 Agustus 2025 Pagi Hari
Ini Dia 6 Siswa yang Menjadi Tim Pengibar Bendera Pusaka saat Upacara Detik-detik Proklamasi