Pintu Kamar Mandi Hotel dengan Kaca Buram Ternyata Tidak Disukai Tamu hingga Muncul Petisi

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:50 WIB
Ilustrasi: Banyak tamu mengeluhkan pintu kamar mandi hotel yang hanya menggunakan kaca buram atau transparan. (PejuangKantoran.com/Made with AI)
Ilustrasi: Banyak tamu mengeluhkan pintu kamar mandi hotel yang hanya menggunakan kaca buram atau transparan. (PejuangKantoran.com/Made with AI)

Masalah ini ternyata cukup serius hingga melahirkan sebuah petisi melalui bringbackdoors.com. Situs ini secara terbuka menyuarakan hak tamu hotel atas privasi, lengkap dengan daftar hotel yang memiliki kamar mandi tanpa pintu, dan hotel yang masih mempertahankan pintu kamar mandi konvensional.

“Saya menolak menerima konsep pintu kamar mandi kaca yang terbuka yang jadi pilihan industri hotel. Pintu seperti ini ada di berbagai negara, di semua kelas hotel,” kilah kreator situs kampanye tersebut, Sadie Lowell.

Meski begitu, dari sisi hotel dan desainer interior, ada alasan mengapa tren ini digunakan. Desainer interior dari AD PRO Directory, Jon de la Cruz, menjelaskan bahwa pintu kaca atau pintu geser sering dipilih karena alasan efisiensi ruang, terutama di kamar hotel berukuran kecil.

Selain itu, pintu kaca buram atau transparan bisa membantu cahaya masuk ke kamar mandi, sehingga ruangan terasa lebih terang.

Baca Juga: Layanan Pro Bono Bukan Hanya Berbentuk Bantuan Hukum. Apa Syarat Menjadi Pengacara Pro Bono?

Desainer lain, Sarah Stacey, menambahkan bahwa pada bangunan lama, keterbatasan pencahayaan dan ventilasi membuat desain kamar mandi harus memanfaatkan cahaya dari area kamar tidur.

Selain faktor desain, alasan biaya juga berperan. Pintu kamar mandi hotel sederhana seperti pintu kaca atau pintu geser lebih mudah dan murah diproduksi dalam jumlah besar.

Berbagai keluhan tersebut menunjukkan bahwa ada benturan antara estetika, efisiensi, dan kenyamanan tamu. Bagi banyak wisatawan, secantik apa pun desain kamar hotel, privasi di kamar mandi tetap harus menjadi perhatian utama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Guardian, The Daily Mail

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X